Technology

Dosen IPB Ungkap Solusi Korosi Mesin Akibat Campuran Etanol di BBM

98
×

Dosen IPB Ungkap Solusi Korosi Mesin Akibat Campuran Etanol di BBM

Sebarkan artikel ini
19eac4751f6eecc8a1e66cc8ad77ff48.jpg
19eac4751f6eecc8a1e66cc8ad77ff48.jpg

Fenesia – Dosen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor (IPB), Leopold Oscar Nelwan, menekankan pentingnya memenuhi syarat teknis tertentu dalam pencampuran etanol dengan bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan ini disampaikan menyusul rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang ingin mengimplementasikan etanol ke dalam BBM.

Leopold menyebut, etanol wajib memiliki kadar air kurang dari 0,3 persen volume per volume (v/v). Kadar air yang rendah sangat krusial mengingat sifat higroskopis etanol yang mudah menyerap air.

Menurut Leopold, jika kadar air terlalu tinggi, campuran bensin-etanol dapat mengalami pemisahan fasa. Kondisi ini berisiko menimbulkan korosi pada komponen mesin dan mengganggu aliran bahan bakar. Ia menambahkan, masalah ini bisa diminimalkan jika kadar air campuran di bawah 0,15 persen m/m, seperti yang diterapkan pada E5.

Selain itu, Leopold juga meminta pemerintah menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat terkait pencampuran etanol ke dalam BBM. SOP ini penting untuk menjamin perubahan kualitas bahan bakar seminimal mungkin, terutama penyerapan air dari udara lembap, sehingga aman bagi konsumen.

Leopold mengingatkan, ada isu saat pemakaian di konsumen, mirip dengan masalah pada biodiesel. Hal ini terjadi bila bahan bakar tidak digunakan terlalu lama di tangki mobil, yang memungkinkan hal di atas terjadi.

Meskipun demikian, penggunaan etanol dalam BBM juga memiliki sejumlah keunggulan. Menurut Leopold, etanol dapat meningkatkan proporsi energi terbarukan dan mendukung strategi nasional untuk mencapai target net zero emission. Namun, ia mengingatkan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca juga ditentukan oleh faktor lain, seperti praktik budi daya bahan baku dan proses industri pengolahan etanol.

Saat ini, sumber utama bioetanol masih didominasi biomassa generasi pertama, yakni tanaman penghasil gula dan pati. Leopold menjelaskan, masalahnya bahan baku ini masih bersaing dengan kebutuhan pangan. Oleh karena itu, pengembangan bahan baku perlu diarahkan pada biomassa generasi kedua dan seterusnya yang tidak berkompetisi dengan pangan.

Leopold percaya, jika dilakukan dengan bijak, potensi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dapat benar-benar terwujud. Di sisi lain, penggunaan etanol dalam BBM berpeluang mengembangkan industri bioetanol dalam negeri dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Industri etanol dapat membuka rantai pasok yang melibatkan banyak pihak, termasuk petani.

Leopold menyoroti, tingkat kemandirian energi Indonesia bisa lebih tangguh apabila bioetanol diproduksi secara penuh di dalam negeri. Keuntungan lain dari etanol adalah kandungan angka oktan atau RON-nya yang lebih tinggi, meskipun nilai kalornya lebih rendah dibanding bensin murni.

Angka oktan yang tinggi pada etanol memungkinkan campuran etanol dan bensin untuk meningkatkan performa mesin berkompresi tinggi. Leopold mengatakan, kendaraan modern dengan rasio kompresi besar justru diuntungkan dengan bahan bakar ber-RON tinggi seperti E10.

Ia menambahkan, penggunaan etanol dalam BBM bukanlah hal baru di Indonesia karena Pertamina sudah mengimplementasikannya melalui Pertamax Green 95. Produk tersebut memiliki kadar etanol lima persen sehingga dikenal sebagai BBM Bensin E5. Penggunaan etanol lima persen ke dalam BBM juga sudah diatur dalam Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi No 252.K/HK.02/DJM/2023.