Berita

Bayar Pajak! Sikat Habis yang Sembunyi di Ketiak Kekuasaan

53
×

Bayar Pajak! Sikat Habis yang Sembunyi di Ketiak Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
pramono:-yang-dulu-bersembunyi-di-ketiak-kekuasaan-harus-bayar-pajak
pramono: yang dulu bersembunyi di ketiak kekuasaan harus bayar pajak

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Perintahkan Penagihan Pajak pada Wajib Pajak yang Bersembunyi.

Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, mengingatkan para wajib pajak yang selama ini menghindari kewajiban membayar pajak dengan berlindung di balik kekuasaan untuk segera memenuhi tanggung jawab mereka.

Dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah, Pramono telah menginstruksikan Lusiana Herawati, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, untuk menagih secara aktif para wajib pajak yang selama ini lalai.

“Bahkan saya sudah secara khusus menyampaikan kepada Bu Lusi. Bu Lusi yang dulu remang-remang, yang dulu enggak mau bayar pajak, yang dulu masih bersembunyi di ketiak-ketiak kekuasaan, sekarang transparan, harus bayar pajak,” ujar Pramono pada acara Penyerahan Piagam Penghargaan dan Gala Dinner Malam Apresiasi Wajib Pajak 2025, yang berlangsung di Balai Kota Jakarta, Selasa (17/6).

Pramono menyoroti pelanggaran aturan terkait pemasangan videotron dan baliho di wilayah yang seharusnya bebas dari iklan tersebut. Ia mempertanyakan ke mana aliran dana dari pelanggaran tersebut.

“Contoh, Kebayoran baru itu enggak boleh ada videotron, nggak boleh ada baliho, nggak boleh ada. Tapi kalau bapak lewat, videotronnya ada, balihonya ada,” ungkapnya.

“Uangnya ke mana? Uangnya ke mana? Maka saya bilang sama Bu Lusi, Bu Lusi, sampaikan kepada semuanya, kita bukan orang yang mau lihat ke belakang, lihat spion terus, enggak. Saya adalah orang yang selalu melihat ke depan,” imbuhnya.

Pramono juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Bapenda DKI atas capaian pajak Jakarta yang mencapai 46,7 persen.

Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengaku sempat berbincang dengan Bimo Wijayanto mengenai capaian pajak DKI Jakarta.

“Terus terang dari tadi saya bisik-bisik dengan Pak Dirjen Pajak. ‘Kok bisa Jakarta memungut pajak lebih tinggi dari nasional?’,” kata Pramono pada tanggal 17 Juni.