Jakarta – PT Coca-Cola Indonesia menerapkan sejumlah strategi adaptasi bisnis untuk mempertahankan relevansi produk di tengah tekanan daya beli konsumen dan kenaikan harga yang terjadi pada Sabtu (1/8/2026).
Dilansir dari MSN, perusahaan mengakui adanya kontraksi ekonomi yang memengaruhi pola belanja masyarakat Indonesia secara signifikan.
Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia, Eva Lusiana, mengonfirmasi bahwa perusahaan menghadapi tantangan berat akibat tekanan inflasi dan kondisi makroekonomi saat ini.
“Memang kita juga merasakan bahwa ekonomi sekarang juga ada rasanya kontraksi,” kata Eva Lusiana.
Ia menambahkan bahwa terdapat tekanan yang bersumber dari kenaikan harga komoditas yang berdampak langsung pada kemampuan belanja konsumen.
“Ada beberapa tekanan yang datang dari kenaikan harga, ada beberapa tekanan juga yang datang dari kondisi ekonomi sekarang,” ujar Eva Lusiana.
Tantangan utama bagi perusahaan saat ini adalah memastikan produk tetap terjangkau oleh target pasar di tengah banyaknya pilihan minuman di pasar.
Perusahaan berupaya mendengarkan kebutuhan konsumen agar produk tetap menjadi pilihan utama meski daya beli masyarakat sedang mengalami pelemahan.
“Yang harus kami lakukan sebagai bisnis adalah kita harus berhati-hati bagaimana konsumen ini masih tetap relevan dengan produk kita dan produk kita juga masih ada dalam daya belinya mereka,” kata Eva Lusiana.
Langkah strategis ini mencakup penyesuaian harga dan aktivitas pemasaran yang lebih dekat dengan gaya hidup konsumen saat ini.
Eva Lusiana menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dua arah agar konsumen tidak merasa terasing dari merek tersebut.
“Jangan sampai konsumen kita merasa kita jauh dan tidak mendengarkan,” kata Eva Lusiana.
Strategi tersebut menjadi krusial sebagai persiapan perusahaan dalam menyongsong usia 100 tahun kehadirannya di Indonesia.
Coca-Cola Indonesia mencatat telah beroperasi selama 99 tahun di pasar domestik dengan mengandalkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen.
Kinerja industri ritel secara umum memang sedang terhambat oleh penurunan daya beli dan pelemahan nilai tukar Rupiah sepanjang semester II tahun ini.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni lalu tercatat anjlok ke level 46,9 yang mencerminkan perlambatan aktivitas ekonomi.
Di tengah kondisi tersebut, penggunaan layanan pinjaman digital atau paylater sering kali menjadi alternatif bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menyoroti aspek perlindungan konsumen terkait penggunaan instrumen keuangan tersebut di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Coca-Cola Indonesia berkomitmen untuk terus memadukan pengalaman produk dengan tren gaya hidup guna mempertahankan pangsa pasar mereka di masa depan.






