Ecozone

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%

28
×

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%

Sebarkan artikel ini
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan keterangan pers terkait kebijakan suku bunga
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Jakarta – Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Dilansir dari rilis resmi Bank Indonesia, keputusan ini mencakup penetapan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,5%.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi terintegrasi untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional.

“Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta meningkatkan likuiditas dan mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan,” kata Perry Warjiyo.

Langkah tersebut bertujuan memastikan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5±1% untuk tahun 2026 dan 2027.

Kondisi ekonomi domestik yang dinilai relatif kuat menjadi dasar utama kebijakan moneter tersebut.

Tingkat inflasi pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan, yang dianggap masih berada dalam koridor sasaran bank sentral.

Sektor perbankan menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan kredit mencapai 12,67%.

Posisi cadangan devisa nasional saat ini berada di angka US$145,6 miliar.

Pertumbuhan uang primer atau M0 tercatat sebesar 14,1% secara tahunan.

Digitalisasi sistem pembayaran mencatatkan kinerja impresif dengan volume transaksi QRIS yang melonjak lebih dari 100% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pakar ekonomi dari PermataBank, Josua Pardede, menilai keputusan menahan suku bunga merupakan jeda kebijakan yang tepat setelah serangkaian kenaikan sebelumnya.

Menurut Josua Pardede, perluasan insentif likuiditas dipandang lebih efektif dalam memacu pembiayaan di sektor riil dibandingkan harus menaikkan suku bunga kembali.

Strategi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi tanpa harus mengorbankan prospek pertumbuhan di masa mendatang.

Bank sentral terus memantau dinamika ekonomi global yang dinilai masih memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Kebijakan bauran ini akan terus dioptimalkan guna merespons berbagai tantangan ekonomi ke depan.

Stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama dalam kerangka kebijakan moneter Bank Indonesia saat ini.

Pemerintah dan otoritas moneter terus berkoordinasi untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional terjaga di tengah fluktuasi pasar keuangan internasional.

Keseluruhan langkah ini mencerminkan sikap kehati-hatian bank sentral dalam mengelola kebijakan moneter.