Berita

WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Tanam 250 Ribu Bibit Pohon Pulihkan DAS Peusangan

34
×

WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Tanam 250 Ribu Bibit Pohon Pulihkan DAS Peusangan

Sebarkan artikel ini

Bener Meriah – WWF-Indonesia bersama pemengaruh Jerhemy Owen menggalang partisipasi publik untuk memulihkan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Aceh, melalui penanaman 250.000 bibit pohon.

Upaya restorasi ini merupakan bagian integral dari program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI).

Gerakan ini menyinergikan pemulihan bentang alam dengan penguatan ekonomi warga lokal serta perlindungan habitat Gajah Sumatra.

Penanaman perdana sebanyak 2.000 bibit telah dilaksanakan di sekitar Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, Sabtu (18/6/2026).

Sebanyak 250.000 bibit akan didistribusikan secara bertahap ke tujuh desa di wilayah lanskap Peusangan.

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, menegaskan bahwa upaya konservasi satwa liar harus terintegrasi dengan kesejahteraan masyarakat.

“Restorasi habitat harus berjalan seiring dengan pemulihan sumber kehidupan warga,” ujar Dewi.

Ia menambahkan, kolaborasi melalui program “Wenanam” ini mentransformasi dukungan publik menjadi aksi konservasi berbasis sains yang berdampak jangka panjang.

Inisiator Wenanam, Jerhemy Owen, menyebut gerakan ini sebagai upaya kolektif masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan harapan lingkungan.

“Ada masyarakat yang perlu memulihkan penghidupannya, habitat yang harus diperbaiki, dan hubungan antara manusia dengan gajah yang perlu kita bangun kembali,” tutur Jerhemy.

Pemilihan jenis bibit disesuaikan dengan kebutuhan ekologis dan potensi ekonomi masing-masing wilayah.

Pada area kelola masyarakat, bibit tanaman produktif seperti durian, jeruk, dan jambu dikembangkan untuk mendukung sistem agroforestri.

Sementara itu, area sungai berpasir ditanami tanaman pionir, bambu, dan pakan gajah guna meningkatkan unsur hara serta menciptakan biobarrier alami.

Program PECI melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, hingga mitra internasional.

Melalui inisiatif ini, warga setempat diposisikan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan lanskap.

Langkah ini diharapkan mampu menekan interaksi negatif antara manusia dan gajah, sekaligus menciptakan koeksistensi yang aman bagi kedua belah pihak.