Ecozone

Menilik Pemulihan IHSG dari Krisis 1998, 2008, hingga Pandemi

30
×

Menilik Pemulihan IHSG dari Krisis 1998, 2008, hingga Pandemi

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia
IHSG mencatatkan koreksi terdalam dalam lima tahun terakhir dengan penurunan mencapai 34,75% secara year to date.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi terdalam dalam lima tahun terakhir setelah sempat menyentuh level 5.342,14 pada Sabtu (18/7/2026), yang memicu kekhawatiran pelaku pasar akan prospek pemulihan bursa domestik sepanjang tahun berjalan.

Dilansir dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan indeks ini telah menggerus kapitalisasi pasar dari Rp 14.816 triliun pada Januari 2026 menjadi Rp 10.647 triliun.

Performa pasar modal Indonesia tahun ini tercatat sebagai yang terburuk di Asia dengan koreksi mencapai 34,75% secara year to date dari posisi tertinggi sepanjang masa di level 9.134.

Meskipun indeks sempat menguat ke level 6.108 pada perdagangan Kamis (16/7), para analis memproyeksikan IHSG belum akan mampu kembali ke level 9.000 hingga akhir tahun 2026.

Kiwoom Sekuritas melalui laporan risetnya memprediksi indeks akan tertahan di kisaran 7.250 hingga 7.700 dengan catatan mampu keluar dari tren penurunan.

Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, merevisi target IHSG dari 10.000 menjadi 8.000 dengan mempertimbangkan level dukungan di 5.969.

Bernadus menjelaskan bahwa penurunan nilai transaksi harian yang kini berada di kisaran Rp 9 triliun hingga Rp 11 triliun disebabkan oleh perpindahan likuiditas investor ke pasar perdana.

“Duitnya itu banyak kesedot di IPO,” kata Bernadus.

Ia mencontohkan tingginya minat investor ritel terhadap penawaran umum perdana saham seperti PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe secara signifikan.

Selain JELI dan PRDL, terdapat emiten lain yang melantai di bursa bulan ini yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), serta PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS).

Secara historis, pasar modal Indonesia pernah melalui fase krisis berat seperti pada tahun 1998, 2008, dan pandemi Covid-19 namun berhasil pulih dalam durasi satu hingga dua tahun.

Pada krisis moneter 1998, IHSG membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk kembali ke level sebelum krisis jika dihitung berdasarkan penutupan bulanan.

Pola pemulihan serupa terjadi pasca krisis keuangan global 2008, di mana indeks kembali ke level 2.000 dalam waktu kurang dari satu tahun setelah menyentuh titik terendah.

Kondisi saat ini diperparah oleh sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik dan penantian keputusan lembaga pemeringkat global terkait peringkat utang Indonesia.

Investor domestik yang mendominasi 70% hingga 75% nilai transaksi di BEI saat ini dilaporkan masih bersikap menunggu perkembangan kebijakan makro.

Bernadus menilai bahwa jika lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global memberikan respons yang terkendali terhadap prospek ekonomi Indonesia, maka hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi pasar.

Ia meyakini aktivitas perdagangan akan kembali bergairah setelah gelaran IPO mereda dan ketidakpastian pasar mulai berkurang.