Ecozone

Pertamina NRE Tancap Gas Ekspansi Bisnis Surya di Filipina

13
×

Pertamina NRE Tancap Gas Ekspansi Bisnis Surya di Filipina

Sebarkan artikel ini
Panel surya terpasang di area terbuka sebagai bagian dari proyek energi terbarukan Pertamina NRE di Filipina.
Pertamina NRE menargetkan kapasitas PLTS di Filipina mencapai 2,4 GW pada akhir tahun 2026.

Jakarta – PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dikembangkan bersama Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) di Filipina mencapai 2,4 gigawatt (GW) pada akhir tahun ini, Rabu (15/7/2026).

Dilansir dari MSN, CEO Pertamina NRE John Anis menjelaskan bahwa total kapasitas yang telah dikembangkan saat ini telah mencapai 1,2 GW.

“Dan tahun ini akan tambah sekitar 1,2 GW lagi, mungkin akhir tahun ini sekitar 2,4 GW,” kata John Anis dalam acara Indonesia Solar Summit 2026.

Ekspansi ini merupakan bagian dari langkah strategis Pertamina NRE yang sebelumnya telah mengakuisisi 20 persen saham CREC senilai US$120 juta pada Juni 2025.

CREC sendiri merupakan perusahaan pengembang energi terbarukan yang aktif berpartisipasi dalam Green Energy Auction Program (GEAP), sebuah skema lelang di bawah Departemen Energi Filipina.

Perusahaan tersebut mencatatkan progres pembangunan yang melampaui target awal penambahan kapasitas sebesar 1 GW setiap tahun selama periode lima tahun.

Menurut John Anis, keberhasilan ekspansi di Filipina didukung oleh pasar energi terbarukan yang sudah terbentuk dengan tarif listrik yang kompetitif bagi skala proyek besar.

Berbeda dengan di Filipina, Pertamina NRE saat ini masih menahan diri untuk melakukan ekspansi investasi PLTS skala besar di Indonesia karena menunggu pertumbuhan pasar domestik.

Perusahaan sebenarnya telah memiliki fasilitas perakitan panel surya yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

“Pabriknya sudah ada di Cikarang, cuma memang kami jujur masih menunggu market-nya,” ujar John Anis.

Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan target pengembangan 100 GW PLTS nasional, para pelaku industri masih menantikan regulasi yang memberikan kepastian hukum dan rencana implementasi yang konkret.

Selain kepastian regulasi, pemberian insentif fiskal juga dianggap sebagai faktor krusial yang dapat memacu pertumbuhan industri tenaga surya di dalam negeri.

Saat ini, portofolio kapasitas PLTS yang dimiliki Pertamina NRE di Indonesia masih terbatas di angka 50-60 megawatt (MW).

Mayoritas dari kapasitas tersebut merupakan PLTS captive yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional internal perusahaan.

Salah satu proyek PLTS captive terbesar yang telah dioperasikan oleh perusahaan berada di wilayah Pertamina Hulu Rokan dengan kapasitas sebesar 26 MW.