Ecozone

Impor LPG dari AS Tiba, Penuhi Kebutuhan 15 Juta Tabung

25
×

Impor LPG dari AS Tiba, Penuhi Kebutuhan 15 Juta Tabung

Sebarkan artikel ini
cd137f32e5d4db212c35df4c6db9dc98.jpg
cd137f32e5d4db212c35df4c6db9dc98.jpg

Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga berhasil mendatangkan pasokan 45,9 ribu metrik ton Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Freeport, Texas, Amerika Serikat, menggunakan Armada Pertamina Gas 1 (PG1) yang tiba di Indonesia pada Senin (13/7/2026) untuk menjaga stabilitas ketersediaan energi nasional.

Dilansir dari siaran pers PT Pertamina Patra Niaga, pengiriman komoditas tersebut dilakukan guna merespons dinamika energi global serta memastikan rantai pasok tetap terjaga dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasional.

Muatan yang dibawa kapal tanker tersebut terdiri atas 23 ribu metrik ton Propane dan 22,8 ribu metrik ton Butane yang setara dengan sekitar 15,2 juta tabung LPG ukuran 3 kilogram.

VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dan sektor produktif.

“Pertamina Patra Niaga terus memastikan setiap mata rantai pasok, mulai dari pengadaan hingga distribusi, berjalan secara terintegrasi agar kebutuhan energi masyarakat dan sektor produktif tetap terpenuhi,” kata Kitty Andhora.

Setelah tiba di perairan Indonesia, proses pembongkaran muatan dilakukan di dua titik strategis, yakni 26 ribu metrik ton di Terminal LPG Sekong, Banten, dan 19,9 ribu metrik ton di Terminal LPG Arun, Aceh.

Pasokan tersebut nantinya akan diintegrasikan ke dalam jaringan infrastruktur distribusi milik Pertamina Patra Niaga untuk memperkuat stok nasional secara berkelanjutan.

Perusahaan terus berupaya memperkuat sistem logistik energi melalui diversifikasi sumber pasokan, optimalisasi infrastruktur terminal, serta jaringan distribusi yang terpadu demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah memastikan bahwa pemerintah telah melakukan pengalihan sumber impor LPG dari wilayah Timur Tengah ke negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia sebagai langkah antisipasi dampak konflik geopolitik.

“Sudah kami alihkan ke negara lain seperti di Amerika, Australia, dan beberapa negara lainnya,” kata Bahlil Lahadalia.

Kebijakan pengalihan ini menjadi strategi krusial mengingat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menghambat jalur distribusi migas dari Teluk Persia ke pasar global.

Selain LPG, pemerintah juga melakukan diversifikasi pasokan minyak mentah dengan mengalihkan pengadaan dari Timur Tengah ke negara-negara seperti Angola, Nigeria, dan kawasan Afrika lainnya.

Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa total impor LPG Indonesia tahun ini diproyeksikan mencapai 7,8 juta ton dengan komposisi 70 persen berasal dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Saudi Aramco.

Langkah strategis ini diharapkan dapat memitigasi risiko ketidakpastian pasokan energi global sekaligus menjaga harga dan ketersediaan LPG tetap stabil bagi kebutuhan rumah tangga dan pelaku usaha di tanah air.