Hong Kong – Kawasan Asia kini menjadi pusat gravitasi ekonomi baru di tengah dinamika ketidakpastian geopolitik dan pergeseran arus modal global.
Sinergi antara Hong Kong, negara-negara ASEAN, dan wilayah Greater Bay Area (GBA) Cina diproyeksikan menjadi poros strategis untuk mendorong pertumbuhan investasi serta integrasi industri lintas batas.
Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region, John Lee, menegaskan bahwa ASEAN telah memantapkan posisinya sebagai mitra dagang terbesar kedua bagi Hong Kong selama 16 tahun berturut-turut.
“ASEAN merupakan mitra dagang terbesar kedua Hong Kong selama 16 tahun berturut-turut. Tahun lalu, perdagangan bilateral kami meningkat hampir 30% menjadi US$ 214 miliar,” ujar John Lee dalam gelaran GBA-ASEAN Summit 2026, Selasa (30/6).
Data menunjukkan perdagangan jasa antara kedua kawasan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 10% menjadi US$ 20 miliar pada 2024.
Pemerintah Hong Kong saat ini tengah merancang cetak biru pembangunan ekonomi jangka panjang melalui Rencana Lima Tahun pertama.
Fokus utama cetak biru tersebut adalah memperdalam kolaborasi regional dengan memanfaatkan posisi unik Hong Kong sebagai hub di Greater Bay Area.
Ketua Hong Kong-ASEAN Foundation, Daryl Ng, menyoroti besarnya potensi ekonomi yang terbentuk dari integrasi populasi ASEAN yang mencapai 700 juta jiwa dengan nilai ekonomi Greater Bay Area yang melampaui RMB 15 triliun.
Nilai perdagangan antara ASEAN dan Greater Bay Area melalui Hong Kong tercatat mencapai HK$ 680 miliar pada 2025.
Selain itu, perdagangan ASEAN dengan Provinsi Guangdong secara spesifik telah menembus angka RMB 1,5 triliun.
Peluncuran ASEAN Chamber and Commerce Hong Kong dalam rangkaian KTT ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok dan pertukaran talenta antarwilayah.
Publisher South China Morning Post, Tammy Tam, menyatakan bahwa fragmentasi ekonomi global justru memicu minat investor internasional untuk melirik stabilitas dan potensi pertumbuhan di Asia.
“Hal ini menciptakan koridor baru bagi arus modal, inovasi, kolaborasi industri, dan pertukaran talenta. Kami percaya di sinilah media yang kredibel dapat memberikan kontribusi,” kata Tammy.
Bagi Indonesia, poros ekonomi ini membuka pintu lebar untuk menarik investasi asing, mendukung hilirisasi industri, serta memperluas akses pendanaan internasional.
Direktur Sumber Daya dan Industrialisasi Kementerian Luar Negeri RI, Awidya Santikajaya, menekankan pentingnya integrasi yang melampaui sektor perdagangan.
“Untuk membuat ini berhasil, kita membutuhkan teknologi, kapital, dan kapasitas eksekusi. Dan GBA serta Hong Kong sebagai hub berada pada posisi yang sangat baik,” ungkap Awidya.
Pemerintah Indonesia kini tengah mengoptimalkan peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menjembatani proyek strategis nasional dengan pendanaan global.
Sektor-sektor seperti transisi energi, ekonomi digital, dan infrastruktur menjadi prioritas dalam kerja sama ini.
Ketua Komite Bilateral Hong Kong dan Makau Kadin Indonesia, Suwito, menambahkan bahwa Indonesia harus lebih agresif menarik investasi di sektor teknologi dan AI.
Menurut Suwito, pasar Indonesia yang memiliki 220 juta pengguna online merupakan daya tarik utama bagi investor teknologi asal Shenzhen.
Hong Kong sendiri saat ini tercatat sebagai investor asing terbesar kedua di Indonesia, yang jika digabungkan dengan investasi dari Cina daratan, menempatkan poros tersebut sebagai investor nomor satu di tanah air.







