Tangerang – Pemerintah Kabupaten Tangerang memastikan proyek strategis nasional Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) tetap berjalan sesuai jadwal meskipun terjadi insiden kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, menegaskan bahwa lokasi titik api berada jauh dari area yang telah dialokasikan khusus untuk pembangunan fasilitas PSEL.
Menurutnya, pihak dinas telah melakukan langkah antisipatif dengan menjaga jarak aman antara tumpukan sampah yang terbakar dengan lahan cadangan proyek energi tersebut.
Ia memastikan bahwa kebakaran tidak mengganggu keberlangsungan rencana investasi maupun pembangunan fisik PSEL di masa mendatang.
“Seharusnya sih enggak berpengaruh ya. Kita upayakan tumpukan sampah ini dijauhkan dari rencana lahan yang untuk PSEL,” ujar Ujat pada Selasa, (30/6).
Selain memastikan keamanan proyek, operasional layanan kebersihan masyarakat di wilayah tersebut dipastikan tetap berjalan normal tanpa kendala berarti.
Proses pengangkutan sampah dari berbagai wilayah menuju TPA Jatiwaringin tetap berlangsung sesuai jadwal harian seperti hari-hari biasanya.
Ujat menjelaskan bahwa aktivitas pembuangan sampah difokuskan pada area yang tidak terdampak oleh kobaran api, sehingga efisiensi pelayanan publik tetap terjaga.
“Proses angkut dan pembuangan sampah enggak terhambat. Karena pembuangan kan di sebelah kiri sana, masih tetep jalan, dan itu tidak terdampak, dan jauh dari titik api,” tambahnya.
Di sisi lain, upaya pemadaman di area TPA yang terbakar terus diintensifkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan 10 unit mobil pemadam kebakaran beserta 30 personel terlatih ke lokasi kejadian.
Namun, petugas di lapangan menghadapi tantangan berat berupa struktur tumpukan sampah yang menyerupai gunung serta kondisi cuaca yang tidak mendukung.
“Kami mengalami kesulitan dalam proses pemadaman karena angin kencang sehingga menimbulkan asap yang begitu pekat. Ditambah, posisi tumpukan sampah ini seperti gunung kan, agak sulit kami jangkau,” jelas Taufik.
Tebalnya asap hitam yang menyelimuti area TPA membatasi ruang gerak petugas untuk mendekati titik api secara langsung menggunakan armada darat.
Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Tangerang kini tengah menjalin komunikasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta dukungan operasional.
Opsi pemadaman melalui jalur udara menggunakan helikopter kini menjadi pertimbangan utama guna memadamkan api yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Langkah ini diambil sebagai bentuk upaya optimal untuk menekan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari kebakaran sampah tersebut.
“Saya berkoordinasi dengan BNPB ya, sambil terus memantau dan seoptimal mungkin. Sementara kita upayakan tanpa ada bantuan helikopter ya. Tapi, saya sudah berupaya ke BNPB untuk membantu mendatangkan helikopter, penyemprotan api dari atas ya,” tegas Taufik.
Hingga saat ini, tim gabungan masih terus bersiaga di lokasi untuk memastikan api tidak merembet ke area lain yang lebih luas di dalam kawasan TPA Jatiwaringin.







