Jakarta – Pemerintah Indonesia menetapkan target implementasi penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) mulai tahun 2027. Kebijakan ini menjadi langkah strategis nasional untuk menekan emisi karbon sekaligus memitigasi risiko fluktuasi harga energi global.
Tahap awal penerapan dilakukan dengan mandat penggunaan SAF sebesar 1 persen pada penerbangan internasional. Ketentuan ini akan diberlakukan secara terbatas di dua pintu gerbang utama Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menjelaskan bahwa pengembangan SAF merupakan respons atas tantangan geopolitik yang berdampak pada stabilitas harga energi dunia. Menurutnya, ketergantungan pada avtur konvensional berbasis fosil memiliki risiko ekonomi yang tinggi bagi industri maskapai.
Agus memaparkan bahwa biaya bahan bakar merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam operasional maskapai penerbangan. Estimasi menunjukkan bahwa biaya avtur dapat mencapai 40 persen dari total biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh perusahaan penerbangan.
Selain kita berusaha untuk mendapatkan kecukupan suplai avtur konvensional, kita juga mengembangkan sustainable aviation fuel, SAF. Ini adalah alternatif yang jauh lebih bersih untuk avtur, ujar Agus di Jakarta, Kamis (25/6).
Ia menegaskan bahwa meskipun penerapan awal hanya mencakup 1 persen dari frekuensi penerbangan internasional, langkah ini merupakan komitmen jangka panjang. Pemerintah memandang transisi energi di sektor transportasi udara sebagai tren global yang tidak terelakkan.
Pemerintah kini mulai mematangkan ekosistem produksi SAF di dalam negeri, mulai dari penyediaan bahan baku hingga proses pengolahan akhir. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar ramah lingkungan secara mandiri tanpa bergantung pada impor.
SAF sendiri merupakan bahan bakar pesawat yang dirancang sebagai pengganti atau campuran avtur konvensional. Bahan bakar ini diproduksi dari berbagai sumber terbarukan seperti minyak jelantah, biomassa, serta limbah pertanian.
Keunggulan teknis dari penggunaan SAF adalah kompatibilitasnya dengan mesin pesawat yang sudah ada saat ini. Maskapai tidak perlu melakukan perombakan atau penggantian mesin secara menyeluruh karena SAF dapat dicampurkan dengan avtur fosil standar dalam proporsi tertentu.
Ke depan kita harus memastikan kapasitas produksi dari hulu ke hilir dalam negeri ini juga bisa mencukupi kebutuhan penerbangan kita yang semakin bersih berbasis pada energi baru dan energi terbarukan, tambah Agus.
Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mencapai target dekarbonisasi di industri penerbangan sipil. Dengan memanfaatkan potensi bahan baku domestik yang melimpah, Indonesia diharapkan mampu menekan ketergantungan pada energi fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
Pemerintah saat ini terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapan infrastruktur distribusi dan standarisasi kualitas SAF. Fokus utama adalah menciptakan ekosistem yang berkelanjutan agar target operasional pada 2027 dapat berjalan sesuai dengan rencana strategis pemerintah.








