Ekonomi

HSBC Luncurkan Layanan Tradecash Percepat Pencairan Modal Kerja Nasabah

20
×

HSBC Luncurkan Layanan Tradecash Percepat Pencairan Modal Kerja Nasabah

Sebarkan artikel ini
b971cdef522f01224382e758352f625e.jpg
b971cdef522f01224382e758352f625e.jpg

Jakarta – HSBC Indonesia resmi meluncurkan solusi pembiayaan perdagangan digital bernama HSBC TradeCash. Layanan ini dirancang untuk mempercepat pencairan modal kerja bagi nasabah korporasi melalui proses pengunggahan faktur penjualan atau invoice secara daring.

Inovasi ini memungkinkan nasabah untuk memperoleh dana dalam hitungan menit setelah seluruh informasi yang diperlukan diverifikasi dan disetujui melalui platform HSBCnet. Keunggulan utama dari skema ini adalah penghapusan kewajiban nasabah untuk menyertakan dokumen perdagangan konvensional yang selama ini dianggap memakan waktu.

Langkah strategis ini diambil untuk memangkas siklus pembayaran yang biasanya memakan waktu 30 hari atau lebih. Dengan demikian, pelaku usaha dapat menjaga likuiditas perusahaan agar tetap terjaga di tengah dinamika pasar yang menantang.

Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, Delia Melissa, menyatakan bahwa layanan ini menjadi jembatan bagi kesenjangan arus kas yang sering dialami pelaku usaha. Menurutnya, HSBC TradeCash tidak hanya mengurangi beban administrasi, tetapi juga menjadi instrumen pendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Delia menambahkan bahwa saat ini pelaku usaha tengah menghadapi tekanan likuiditas akibat volatilitas geopolitik dan tren kenaikan suku bunga global. Kondisi tersebut menuntut adanya akses modal kerja yang lebih fleksibel dibandingkan metode pembiayaan tradisional.

Di tengah gejolak tersebut, aktivitas perdagangan Indonesia tercatat masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia mencapai US$ 25,3 miliar pada April 2026, atau meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan pertumbuhan ekspor, nilai impor Indonesia juga mengalami lonjakan sebesar 22,49 persen menjadi US$ 25,51 miliar pada periode yang sama. Data tersebut mencerminkan tingginya permintaan terhadap modal kerja yang efisien untuk memfasilitasi aktivitas perdagangan nasional.

Survei internal HSBC yang melibatkan 3.000 pebisnis dan investor menunjukkan bahwa 88 persen responden telah menyusun ulang alokasi modal sebagai respons terhadap meningkatnya volatilitas. Sebanyak 89 persen responden bahkan secara aktif memperbesar penempatan modal di pasar yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi.

Delia menekankan bahwa akses terhadap modal kerja kini telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan. Kemudahan akses tersebut menjadi faktor krusial bagi daya saing pebisnis Indonesia, terutama bagi mereka yang sedang melakukan ekspansi ke pasar ekspor.

Dari sisi teknis, Global Head of Trade HSBC, Vivek Ramachandran, menjelaskan bahwa HSBC TradeCash membantu nasabah memaksimalkan kas yang tertahan dalam piutang. Proses digital yang ditawarkan mampu meminimalkan beban administratif yang selama ini membebani operasional perusahaan.

Vivek menegaskan bahwa dengan akses pendanaan yang lebih cepat, para pelaku bisnis dapat mengalihkan fokus dari pengelolaan dokumen ke pemenuhan pesanan dan investasi. Hal ini dinilai penting mengingat kenaikan harga barang dan keterlambatan pengiriman akibat perang tarif serta ketegangan geopolitik semakin menekan arus kas perusahaan.

Layanan HSBC TradeCash kini melengkapi portofolio solusi trade finance HSBC yang sudah ada sebelumnya, termasuk HSBC TradePay. Melalui ekosistem digital ini, HSBC berupaya membantu nasabah untuk terus berkembang di tengah siklus pembayaran yang semakin panjang dan biaya operasional yang terus meningkat.