JAKARTA – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) diproyeksikan memiliki prospek bisnis yang menjanjikan hingga akhir 2026. Optimisme ini didorong oleh kontribusi penuh dari integrasi bisnis energi di Singapura serta peningkatan kapasitas kilang yang diyakini mampu menopang pertumbuhan kinerja jangka panjang konglomerasi tersebut.
Performa BRPT pada kuartal I-2026 mencatatkan lonjakan signifikan seiring dengan beroperasinya Kilang Minyak Aster di Singapura. Fasilitas yang sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park tersebut diakuisisi oleh anak usaha BRPT, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), pada April 2025. Selain itu, perseroan juga memperkuat lini bisnis melalui akuisisi jaringan bahan bakar ritel merek Esso dari ExxonMobil yang rampung pada Januari 2026.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa integrasi penuh Kilang Aster menjadi penopang utama kinerja perseroan. Menurutnya, diversifikasi pendapatan melalui bisnis ritel bahan bakar Esso menjadikan struktur keuangan perusahaan lebih beragam dan stabil.
Wafi menjelaskan bahwa prospek hingga akhir 2026 dinilai masih konstruktif. Pertumbuhan laba yang dimulai pada 2025 terus berlanjut hingga kuartal I-2026 berkat kontribusi optimal dari kilang yang telah terintegrasi tersebut.
Lebih lanjut, Wafi menyebutkan bahwa akuisisi Esso memberikan tambahan pendapatan berulang atau recurring revenue dari sektor ritel bahan bakar. Segmen ini memiliki margin yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan bisnis petrokimia yang selama ini menjadi inti usaha perusahaan.
Transformasi bisnis BRPT dari perusahaan yang sebelumnya hanya bergantung pada petrokimia menjadi perusahaan energi dan kimia terintegrasi dinilai berhasil mengurangi volatilitas pendapatan secara struktural. Hal ini dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas kinerja di tengah dinamika pasar global.
Katalis positif bagi BRPT sepanjang tahun ini mencakup peningkatan utilisasi Kilang Aster serta kontribusi bisnis ritel Esso yang lebih terprediksi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah memberikan keuntungan tersendiri bagi perseroan karena mayoritas pendapatannya berbasis dolar AS. Proyek Chandra Asri Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang ditargetkan beroperasi pada 2027 juga diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan laba baru di masa depan.
Dari sisi pasar modal, posisi free float BRPT yang mencapai 26,7 persen memberikan keamanan tersendiri. Angka tersebut membuat saham emiten ini relatif aman dari risiko didepak dari indeks global seperti MSCI maupun FTSE.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen negatif. Tekanan pada spread petrokimia global akibat kelebihan pasokan atau oversupply dari China masih membayangi industri. Normalisasi harga minyak dunia juga berpotensi menekan margin bisnis pengilangan.
Risiko lainnya berasal dari tingkat suku bunga yang masih tinggi. Wafi mencatat suku bunga acuan Bank Indonesia di level 5,50 persen dapat meningkatkan beban biaya pendanaan atau cost of debt, mengingat tingkat leverage atau utang BRPT yang masih tergolong tinggi.
Secara fundamental, BRPT menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan. Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan BRPT melonjak tajam 232,18 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$ 2,57 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan US$ 773,75 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tercatat sebesar US$ 90,48 juta pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat 459,90 persen yoy dibandingkan laba bersih pada periode sebelumnya yang sebesar US$ 16,16 juta.
Wafi menilai pembalikan arah saham BRPT yang terjadi belakangan ini telah didukung oleh fundamental perusahaan yang menguat. Berdasarkan berbagai katalis tersebut, KISI merekomendasikan investor untuk melakukan aksi beli atau buy pada saham BRPT dengan target harga di level Rp 2.200 per saham.







