Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,50% direspons secara strategis oleh pelaku industri perbankan digital. PT Krom Bank Indonesia Tbk memandang langkah otoritas moneter tersebut sebagai sinyal positif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus upaya nyata dalam mengendalikan laju inflasi.
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyatakan bahwa pihaknya telah menyusun langkah antisipatif untuk merespons dampak kenaikan suku bunga tersebut terhadap operasional bank ke depan. Fokus utama perseroan saat ini terletak pada penguatan manajemen risiko guna mengelola potensi kenaikan biaya dana atau cost of fund agar tetap terkendali.
Dalam upaya menjaga stabilitas biaya dana, Anton menjelaskan bahwa bank akan memprioritaskan penguatan likuiditas serta penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Strategi ini ditempuh agar biaya dana tetap stabil sehingga bank tidak perlu menaikkan suku bunga kredit secara agresif yang berisiko menekan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM).
Lebih lanjut, Anton mengungkapkan bahwa Krom Bank berkomitmen untuk mempertahankan tingkat suku bunga deposito yang berlaku saat ini sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana yang prudent. Pihaknya secara aktif terus melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar dan dinamika pergerakan industri guna menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran produk serta keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Dari sisi profitabilitas, manajemen Krom Bank masih terus melakukan observasi dan analisis mendalam terhadap dampak kenaikan BI Rate terhadap kinerja keuangan perusahaan. Di tengah situasi pasar yang menantang, bank akan terus mengoptimalkan penghimpunan dana murah melalui ekosistem digital yang telah dikembangkan.
Langkah penyesuaian juga dilakukan untuk menjaga kualitas aset perusahaan. Bank menegaskan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang ketat dalam setiap penyaluran kredit. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan potensi munculnya risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di tengah fluktuasi ekonomi.
Anton mengakui bahwa kenaikan BI Rate berpotensi memberikan tekanan terhadap margin bunga bersih perbankan secara umum. Namun, ia memastikan bahwa pihak manajemen akan mengedepankan efisiensi biaya dana untuk menjaga margin bunga tetap stabil, sekaligus memastikan suku bunga kredit yang ditawarkan kepada nasabah tetap kompetitif.
Terkait prospek ke depan, Krom Bank tetap mencermati potensi melandainya NIM seiring dengan tren kenaikan suku bunga acuan. Fokus utama perusahaan adalah menjaga efisiensi biaya dana agar margin tetap terjaga di tengah kompetisi industri yang semakin ketat.
Perlu diketahui bahwa Krom Bank sendiri mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan perolehan 1 juta rekening hingga April 2026. Selain itu, bank digital ini juga tengah menjalankan strategi ekspansi yang agresif dengan membidik segmen pasar generasi Z dan milenial sebagai basis nasabah utama mereka dalam ekosistem perbankan digital.







