Ecozone

Harga Emas Melemah, Saatnya Investor Melakukan Akumulasi Aset?

14
×

Harga Emas Melemah, Saatnya Investor Melakukan Akumulasi Aset?

Sebarkan artikel ini
d9ea3bbd620585654c6e3851c2260e75.jpg
d9ea3bbd620585654c6e3851c2260e75.jpg

Jakarta – Tren koreksi harga emas batangan PT Aneka Tambang (ANTM) dinilai menjadi momentum strategis bagi investor untuk melakukan akumulasi aset. Meski harga emas di pasar spot tengah mengalami pelemahan, para analis memandang level harga saat ini cukup atraktif bagi pelaku pasar yang berorientasi jangka panjang.

Pada Minggu (7/6/2026), harga emas Antam tercatat berada di posisi Rp 2.738.000 per gram. Angka tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan posisi sebulan lalu pada 8 Mei 2026 yang sempat berada di level Rp 2.839.000 per gram. Di pasar global, harga emas spot terpantau melemah 7,68% dalam sebulan terakhir ke level US$ 4.331 per troi ons, sementara perak terkoreksi 12,95% ke level US$ 67,29 per troi ons.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa saat ini emas dan perak berada pada kisaran bawah dari rentang perdagangan atau range trading. Kondisi ini dipicu oleh tekanan harga minyak dunia yang mendorong kekhawatiran inflasi sekaligus menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi.

Sebagai aset non-yielding atau tidak memberikan imbal hasil, emas memang cenderung tertekan ketika prospek suku bunga bertahan di level tinggi. Investor cenderung mengalihkan modal ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Namun, bagi investor jangka panjang, fluktuasi ini justru menawarkan titik masuk yang potensial.

Lukman turut menyoroti perbedaan karakteristik antara emas dengan instrumen investasi lain seperti saham dan obligasi. Saat ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah berada dalam tren pelemahan setelah ditutup turun 4,20% ke level 5.594,77 pada Jumat (5/6/2026). Di sisi lain, pasar obligasi dinilai masih suram akibat tingginya imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun yang menyentuh 6,9%.

Prospek obligasi diperkirakan masih menghadapi tantangan berat. Harga minyak yang tinggi berisiko memicu inflasi, yang pada akhirnya akan menjaga suku bunga domestik tetap tinggi dan membatasi minat investor terhadap obligasi.

Meski demikian, Lukman tetap optimistis terhadap kinerja emas hingga akhir tahun 2026. Ia memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$ 5.700 per troi ons, yang merefleksikan potensi kenaikan sekitar 25% hingga 30% dari level saat ini. Jika asumsi nilai tukar rupiah stabil, harga emas Antam diprediksi mampu bergerak di kisaran Rp 3,46 juta hingga Rp 3,60 juta per gram di masa mendatang.

Terkait logam mulia perak, Lukman menilai prospeknya masih cukup menjanjikan berkat permintaan kuat dari sektor industri, terutama industri panel surya. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa perak memiliki karakteristik yang lebih volatil dan spekulatif dibandingkan emas yang berfungsi murni sebagai aset safe haven.

0d44ff5c777acf31f3f0df876cc9f743.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan lalu dengan pelemahan signifikan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 4,20% ke level 5.594,77 pada Jumat (5/6/2026). Seluruh sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor transportasi yang terkoreksi hingga 5,97%. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, tekanan jual di pasar masih…

acdcc81369b298bcd3c4b02c4af71e2c.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Kinerja rata-rata return atau yield unitlink berbasis saham menjadi yang terkontraksi paling dalam. Berdasarkan data Infovesta secara year to date (ytd), rata-rata return unitlink berbasis saham terkontraksi sebesar 8,76% per Mei 2026. Meski terkontraksi paling dalam, jika dilihat secara rinci, terdapat 10 produk unitlink saham yang berhasil mencetak return tertinggi per Mei 2026. Adapun 10 produk tersebut return-nya…

e3b0f6b044729dd603d60e5b02ea15f2.jpg
Ecozone

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menerus hingga jatuh di bawah level 6.000 dipengaruhi sentimen negatif terhadap perekonomian dalam negeri. Padahal, menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tumbuh baik. “Jadi kendala utamanya adalah persepsi nega…