Jakarta – Kinerja produk unitlink berbasis saham mencatatkan tekanan berat sepanjang tahun berjalan hingga Mei 2026. Data Infovesta menunjukkan rata-rata imbal hasil atau return produk ini terkontraksi hingga 8,76 persen secara year to date.
Kondisi pasar modal yang volatil menjadi faktor utama penyebab keterpurukan tersebut. Tren negatif ini kian dalam jika dibandingkan dengan posisi per April 2026 yang mencatatkan kontraksi sebesar 4,75 persen.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menjelaskan bahwa sejumlah katalis negatif menekan performa unitlink berbasis saham. Faktor-faktor tersebut meliputi rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI), pelemahan nilai tukar Rupiah, perubahan kebijakan pemerintah, hingga volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Meski rata-rata kinerja tertekan, sejumlah produk unitlink saham mampu melawan arus dengan mencetak return di atas rata-rata industri. Produk PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia mendominasi peringkat teratas. Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – IDR mencatatkan return tertinggi sebesar 69,87 persen, disusul Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – USD sebesar 60,53 persen.
Di peringkat ketiga dan keempat, produk Manulife Dana Ekuitas Asia Pasifik Syariah (IDR) dan (USD) masing-masing membukukan imbal hasil 46,97 persen dan 38,88 persen. Posisi kelima diisi oleh Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$ dari PT Asuransi Allianz Life Indonesia dengan return 36,18 persen.
Selanjutnya, posisi keenam hingga kesepuluh ditempati oleh Mandiri Golden Offshore USD (32,86 persen), USD Prime Emerging Market Equity Fund (31,90 persen), FWD USD Equity Plus Fund (28,15 persen), PRUlink US Dollar Global Tech Equity Fund (26,94 persen), serta Smartwealth Dollar Equity Global Artificial Intelligence Fund (25,46 persen).
Wawan memprediksi kinerja unitlink berbasis saham akan tetap sulit untuk pulih selama pasar modal Indonesia masih melemah. Menurutnya, potensi positif hanya terbuka bagi unitlink dalam denominasi dolar AS yang menempatkan investasi ke luar negeri.
Selain unitlink berbasis saham, kinerja produk unitlink campuran juga terpuruk dengan kontraksi 6,17 persen, sementara unitlink pendapatan tetap terkontraksi 0,88 persen. Sebaliknya, unitlink berbasis pasar uang menjadi satu-satunya yang mencatatkan kinerja positif sebesar 1,31 persen. Capaian ini didorong oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,25 persen.







