Berita

Peneliti Cambridge Rancang Vaksin Virus Corona Generasi Baru Pakai Teknologi AI

12
×

Peneliti Cambridge Rancang Vaksin Virus Corona Generasi Baru Pakai Teknologi AI

Sebarkan artikel ini
pertama-di-dunia,-vaksin-dirancang-oleh-ai-dan-diuji-coba-ke-manusia
pertama di dunia, vaksin dirancang oleh ai dan diuji coba ke manusia

Jakarta – Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai merambah dunia medis dengan menciptakan terobosan baru berupa perancangan vaksin secara menyeluruh. Peneliti dari Cambridge University menyatakan, ini merupakan kali pertama komponen kunci vaksin dirancang menggunakan teknologi AI.

Vaksin ini dikembangkan untuk memberikan perlindungan terhadap seluruh jenis virus Corona, termasuk virus penyebab Covid-19. Saat ini, pengembangannya masih berada pada tahap awal dan telah melalui uji coba terhadap 39 partisipan manusia.

Secara teknis, vaksin berfungsi melatih tubuh untuk mendeteksi serta melawan infeksi. Namun, tantangan muncul karena virus kerap bermutasi sehingga efektivitas vaksin konvensional sering menurun dan memerlukan pembaharuan secara berkala.

Berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan strain virus yang sedang beredar, para peneliti dalam riset ini menggunakan kode genetik dari berbagai jenis virus Corona yang telah terekam oleh program. Kode genetik tersebut kemudian dianalisis oleh AI untuk merancang apa yang disebut sebagai ‘super-antigen’.

Komponen ‘super-antigen’ ini berfungsi melatih sistem kekebalan tubuh agar mampu memberikan perlindungan terhadap seluruh keluarga virus, termasuk varian yang telah bermutasi. Profesor Jonathan Heeney dari Cambridge University mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama antigen, sebagai komponen penting vaksin, dirancang oleh AI.

“Teknologi ini mengejutkan kita semua dan sungguh menakjubkan apa yang dapat kita lakukan dengannya [AI] untuk kebaikan umat manusia,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Infection, tahap pertama uji coba menunjukkan bahwa vaksin tersebut aman digunakan. Meski demikian, dampak vaksin terhadap sistem kekebalan tubuh dilaporkan belum terlalu besar.

Rencananya, uji coba tahap kedua akan melibatkan sekitar 200 orang. Tahap ini ditujukan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai seberapa efektif vaksin tersebut dalam melatih sistem imun manusia.

Direktur Oxford Vaccine Group, Profesor Andy Pollard, menilai pendekatan ini telah memberikan bukti yang meyakinkan melalui penelitian pada hewan. Meskipun tidak terlibat langsung dalam studi tersebut, ia mengaku terkesan dengan hasilnya.

“Ini data yang menarik dan orang-orang tidak akan pernah menduga mereka mampu menghasilkan respons imun seperti ini,” ujarnya.