Manchester – Pep Guardiola resmi akan mengakhiri masa baktinya selama satu dekade sebagai manajer Manchester City pada akhir musim 2025/2026. Laga pamungkas melawan Aston Villa pada pekan terakhir Liga Inggris, Minggu (24/5/2026), menjadi panggung perpisahan bagi pelatih asal Spanyol tersebut bersama The Citizens.
Kepergian Guardiola menandai berakhirnya era keemasan Manchester City yang ia bangun sejak Juli 2016. Selama masa kepemimpinannya, ia berhasil mengubah wajah klub menjadi kekuatan dominan di kancah domestik maupun Eropa dengan koleksi 20 trofi bergengsi.
Di balik keputusan hengkang tersebut, Guardiola menegaskan tidak ada alasan khusus di baliknya. Ia menyebut bahwa setiap perjalanan memiliki waktu untuk berakhir dan ia memilih untuk menutup bab perjalanannya di Etihad Stadium dengan perasaan mendalam.
“Betapa indahnya waktu yang telah kita lalui bersama. Jangan tanya alasan kepergianku, tidak ada alasan, karena jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini adalah waktuku,” ungkap Guardiola.
Selama hampir 10 tahun mengabdi, warisan yang ditinggalkan mantan pelatih Barcelona itu sangat sulit untuk disamai. Ia menjadi sosok kunci di balik keberhasilan Manchester City meraih gelar Liga Inggris empat musim beruntun pada 2021-2024, sebuah rekor yang belum pernah dicapai klub manapun di Inggris sebelumnya.
Pencapaian bersejarah lainnya adalah saat ia membawa The Citizens meraih treble winners pada musim 2022/2023, menyamai catatan legendaris Sir Alex Ferguson. Selain trofi, Guardiola juga mencatatkan rekor impresif seperti membawa tim meraih 100 poin dalam satu musim kompetisi serta menjadi pelatih tercepat yang mencapai 250 kemenangan di Premier League.
Meskipun musim terakhirnya tidak diwarnai gelar Liga Inggris, Manchester City tetap mampu mempersembahkan trofi Piala FA dan Piala Carabao sebagai kado perpisahan bagi sang juru taktik. Ke depan, posisi manajer akan diteruskan oleh Enzo Maresca yang diharapkan mampu menjaga warisan yang telah dibangun Guardiola.







