Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi pertama, Kamis (21/5/2026), dengan terkoreksi tajam sebesar 2,71 persen ke level 6.147. Performa negatif ini terjadi setelah indeks sempat mencoba menguat di awal pembukaan perdagangan ke posisi 6.366,4.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan seluruh sektor indeks berakhir di zona merah. Pelemahan terdalam dicatatkan oleh sektor barang baku (IDXBASIC) yang terjun bebas hingga 6,34 persen. Selain itu, sektor energi turut anjlok 4,99 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik sebesar 4,70 persen, serta sektor perindustrian yang turun 4 persen.
Gejolak pasar modal ini dipicu oleh kombinasi sentimen kebijakan domestik dan langkah moneter Bank Indonesia. Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen menjadi sorotan utama, lantaran angka tersebut melampaui ekspektasi konsensus pasar yang memprediksi kenaikan di angka 5 persen. Meski membebani pasar saham, kenaikan suku bunga ini berhasil mendorong penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar AS.
Di sisi lain, investor merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Dalam pidatonya, pemerintah menegaskan rencana kebijakan ekspor komoditas Sumber Daya Alam (SDA) melalui penunjukan BUMN sebagai pengekspor tunggal. Presiden juga menginstruksikan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menurunkan suku bunga kredit bagi masyarakat kecil.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebutkan bahwa pasar cenderung bergerak fluktuatif merespons kebijakan tersebut. Tekanan pada IHSG ini merupakan kelanjutan tren negatif yang sudah terjadi sejak perdagangan Rabu (20/5/2026), di mana indeks ditutup melemah di level 6.318,5. Investor kini tengah memantau stabilitas ekonomi di tengah pengetatan kebijakan moneter dan perubahan regulasi ekspor nasional.







