Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan berat pada perdagangan pekan depan. Mata uang Garuda kini dibayangi sentimen negatif baik dari ketegangan geopolitik global maupun tantangan ekonomi domestik yang cukup kompleks.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah terus mengalami pelemahan sepanjang pekan lalu. Pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), nilai tukar rupiah berakhir di level Rp 17.597 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor terlemah di angka Rp 17.528 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai gejolak di pasar global menjadi pemicu utama depresiasi rupiah. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menyusul penolakan proposal perdamaian oleh pihak Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz.
“Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia naik dan memicu kembali kecemasan terhadap inflasi global,” ujar Ibrahim, Rabu (13/5/2026).
Selain isu geopolitik, inflasi Amerika Serikat yang tercatat mencapai 3,8% secara tahunan pada April 2026 turut memperkuat indeks dolar AS. Tingginya angka inflasi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin memudar, sehingga aset berbasis dolar AS kembali menjadi pilihan utama investor global.
Di sisi domestik, pasar merespons beragam terhadap kebijakan pemerintah. Meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat naik tipis ke level 123,0, investor tetap mewaspadai risiko pada sektor manufaktur dan ketidakpastian kebijakan fiskal.
Isu mengenai penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI turut menambah kekhawatiran terjadinya arus keluar modal asing atau capital outflow. Pasar juga mencermati dinamika kebijakan, termasuk respons pemerintah terhadap pelemahan mata uang nasional saat ini.
Pemerintah sendiri memastikan rasio utang Indonesia masih berada di level 40,75% terhadap PDB, atau masih jauh di bawah batas aman undang-undang sebesar 60%. Meski demikian, posisi utang pemerintah tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan akhir tahun lalu.
Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia terus melakukan langkah intervensi. Upaya tersebut dilakukan melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF), intervensi langsung di pasar spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada pekan mendatang akan bergerak di kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan suku bunga global dan stabilitas politik di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah pasar.














