Jakarta – Indeks harga saham gabungan Korea Selatan, Kospi, mengalami kejatuhan signifikan sebesar 6,12 persen pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Indeks tersebut merosot 488,23 poin ke level 7.493,18, tak lama setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di angka 8.046,78.

Anjloknya pasar saham Korea Selatan dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor asing terhadap saham-saham teknologi raksasa, seperti Samsung Electronics dan SK hynix. Fenomena ini sekaligus mengakhiri reli panjang yang sebelumnya didorong oleh euforia kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Data perdagangan menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar 5,6 triliun won. Aksi ini menjadi kelanjutan dari tren negatif investor asing yang telah melepas saham selama tujuh hari berturut-turut. Selain itu, investor institusi turut melepas saham senilai 1,7 triliun won, sementara investor ritel mencoba memanfaatkan momentum dengan memborong saham senilai 7,2 triliun won.

Analis dari Daishin Securities, Lee Kyoung-min, menilai koreksi tajam ini merupakan bentuk aksi ambil untung atau profit taking setelah berakhirnya musim laporan keuangan kuartal I/2026. Menurutnya, ekspektasi kinerja emiten teknologi saat ini dianggap telah mencapai titik puncaknya.

Selain faktor teknis, sentimen geopolitik global turut memperburuk kondisi pasar. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai sikap tegas terhadap Teheran pascakunjungan ke China meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Situasi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia dan memberikan tekanan tambahan bagi pasar modal Asia. Sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor sektor teknologi, Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang paling terdampak oleh ketidakpastian ekonomi dan politik global tersebut.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *