Jakarta – Atap Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta jebol saat hujan deras. Insiden ini memicu sorotan tajam terkait standar keselamatan dan kualitas layanan bandara.
Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Hadityo Ganinduto, menyebut kejadian ini sempat membuat panik penumpang.
Meski demikian, operasional bandara tetap berjalan normal dan tidak ada korban jiwa.
Firnando menilai insiden ini harus menjadi momentum evaluasi infrastruktur bandara, terutama dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Bandara, sebagai fasilitas publik strategis, harus selalu aman dan nyaman.
Ia menyoroti peran InJourney sebagai pengelola bandara, khususnya Bandara Soekarno-Hatta sebagai pintu masuk utama wisatawan.
“Kualitas bandara tidak boleh hanya fokus pada tampilan, tetapi juga kekuatan konstruksi,” tegasnya.
Kesan pertama terhadap Indonesia ditentukan oleh kualitas bandara.
Faktor cuaca seharusnya sudah diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan.
Firnando juga menilai belum ada langkah mitigasi komprehensif pascakejadian.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan tanggung jawab dalam menjelaskan insiden kepada publik.
Komisi VI DPR RI akan segera memanggil direksi InJourney untuk dimintai penjelasan dan evaluasi menyeluruh.
Langkah ini penting untuk memastikan perbaikan sistem dan menjaga kepercayaan masyarakat.







