Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Manajemen Risiko Energi Indonesia (AMREI), Rifky Assamady, soroti pentingnya budaya manajemen risiko yang kuat. Hal ini sebagai respons terhadap dinamika global yang kompleks dan penuh ketidakpastian.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara Training Nasional Let’s Play Risk Culture Boardgame & MRPN Awareness di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Menurut Rifky, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi. Sekaligus membangun kesadaran akan krisis pada setiap individu perusahaan.
“Dua hal ini menjadi fondasi utama dan krusial dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian lingkungan bisnis yang semakin kompleks,” ujarnya.
Rifky menambahkan, hal ini juga penting untuk membangun organisasi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa manajemen risiko bukan sekadar dokumen atau kepatuhan administratif. Lebih dari itu, ini adalah cara berpikir, bertindak, dan budaya yang harus tertanam dalam keseharian.
Implementasi manajemen risiko membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kesadaran kolektif dari seluruh elemen organisasi.
Setiap individu memiliki peran penting dalam mengawal perusahaan agar tetap berada di jalur pencapaian tujuan.
Rifky mengingatkan bahwa kondisi global saat ini berpotensi memicu berbagai krisis yang berdampak pada dunia usaha di Indonesia.
“Ketidakpastian ini menuntut kita untuk semakin serius dalam menerapkan manajemen risiko,” katanya.
Tujuannya, agar perusahaan mampu bertahan dan bahkan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Rifky menekankan pentingnya penentuan prioritas program kerja yang efektif.
Ia juga menyoroti peran strategis AMREI sebagai strategic advisory partner yang menjembatani komunikasi lintas sektor.
“AMREI tidak hanya berperan sebagai penghubung, tetapi juga sebagai fasilitator ekosistem yang mendorong harmonisasi lintas institusi,” pungkasnya.













