Ecozone

Yohanes Surya, Perintis Olimpiade Fisika, Mundur dari Komisaris Telkom

447
×

Yohanes Surya, Perintis Olimpiade Fisika, Mundur dari Komisaris Telkom

Sebarkan artikel ini
fb1df2001542d85c592c3093b7960a4f.jpg
fb1df2001542d85c592c3093b7960a4f.jpg

Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan pengunduran diri Yohanes Surya dari posisi Komisaris Independen. Keputusan ini berlaku efektif sejak 20 November 2025.

Senior Vice President Corporate Secretary Telkom, Jati Widagdo, menyatakan bahwa perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan terkait surat pengunduran diri yang diajukan Yohanes Surya sesuai ketentuan yang berlaku. Informasi tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 21 November 2025. Yohanes Surya sendiri baru bergabung sebagai Komisaris Independen Telkom pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Mei 2025.

Sebelum menjabat di Telkom, Yohanes Surya dikenal luas sebagai fisikawan dan pengajar. Ia adalah perintis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) dan pendiri Surya Institute pada tahun 2006, yang kemudian berkembang menjadi Surya University.

Lahir di Jakarta pada 6 November 1963, Yohanes Surya menempuh pendidikan Fisika di Universitas Indonesia hingga tahun 1986. Setelah mengajar di SMAK 1 Penabur Jakarta, ia melanjutkan studi magister dan doktoral di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Ketertarikannya pada kompetisi fisika tumbuh saat kampusnya menjadi tuan rumah International Physics Olympiad (IPhO) ke-24, mendorongnya untuk membentuk dan memimpin TOFI sejak 1994.

Di bawah bimbingan Yohanes Surya, tim olimpiade Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang di berbagai ajang sains internasional. TOFI mencatat perolehan 54 medali emas, 33 perak, dan 42 perunggu dari berbagai kompetisi. Indonesia bahkan pernah menjadi juara umum di International Junior Science Olympiad dan meraih penghargaan khusus di Olimpiade Fisika Asia. Pada tahun 2002, saat Indonesia menjadi tuan rumah IPhO ke-33, tim sukses menyabet tiga medali emas.

Kontribusi Yohanes Surya tidak hanya terbatas pada pembinaan olimpiade. Ia juga menggagas metode GASING, singkatan dari Gampang, Asyik, dan Menyenangkan, yang dirancang untuk memudahkan siswa memahami pelajaran eksakta. Ia aktif melatih guru di berbagai daerah, meyakini bahwa guru yang baik adalah yang mampu menginspirasi dan mengajarkan muridnya dengan mudah, ceria, serta menyenangkan.

Pada tahun 2014, nama Yohanes Surya sempat masuk bursa menteri di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla, berpotensi menduduki posisi Menteri Riset dan Teknologi. Namun, ia menyatakan lebih memilih untuk berada di luar sistem birokrasi dan berkontribusi sebagai pemberi masukan kepada presiden atau menteri terkait pengembangan riset di Tanah Air, baik riset aplikasi maupun fundamental.

Namun, perjalanan mendirikan kampus berbasis riset tidak selalu mulus. Pada tahun 2017, empat tahun setelah beroperasi, Surya University menghadapi kesulitan finansial dan terjerat utang kredit tanpa agunan di Bank Mandiri sebesar Rp 16 miliar. Akibatnya, banyak mahasiswa dan dosen mulai meninggalkan kampus yang berlokasi di Serpong, Tangerang Selatan, Banten tersebut.

Utang tersebut berasal dari skema student loan yang diajukan oleh orang tua mahasiswa, dengan total Rp 43,5 miliar dari 300 orang tua. Ketidakmampuan kampus membayar turut menyeret orang tua mahasiswa yang telah menandatangani pengajuan kredit. Yohanes Surya saat itu menyatakan optimisme bahwa masalah keuangan lembaganya akan segera teratasi.