Berita

Warga Manggarai Timur Meninggal, Belasan Konsumsi Daging Anjing

108
×

Warga Manggarai Timur Meninggal, Belasan Konsumsi Daging Anjing

Sebarkan artikel ini
warga-manggarai-timur-meninggal-akibat-rabies,-anjing-yang-menggigit-dibunuh-lalu-dikonsumsi-17-orang
warga manggarai timur meninggal akibat rabies, anjing yang menggigit dibunuh lalu dikonsumsi 17 orang

Manggarai Timur – Seorang warga Desa Wejang Mawe, Manggarai Timur, NTT, meninggal dunia akibat rabies setelah digigit anjing peliharaannya. Tragisnya, belasan warga lain ikut mengonsumsi daging anjing tersebut.

SB (37) menghembuskan napas terakhir di RSUD Ruteng pada Jumat (24/10/2025) pukul 22.00 WITA.

Kepala Desa Wejang Mawe, Raimundus Sali, mengungkapkan bahwa SB digigit anjingnya pada 5 September 2025.

Korban tidak segera melapor ke puskesmas dan hanya membersihkan luka dengan detergen.

“Gejala baru muncul belakangan sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit Ruteng. Namun sayangnya, kurang dari 24 jam, pasien dinyatakan meninggal,” kata Raimundus, Minggu (26/10/2025).

Video detik-detik terakhir SB saat dirawat di ruang isolasi sempat beredar luas. Dalam video tersebut, SB tampak gelisah dan kejang-kejang, disertai suara tangisan seorang wanita.

Petugas medis RSUD Ruteng menyatakan SB tiba di rumah sakit pada Sabtu (24/10/2026) pagi dengan kondisi parah.

Gejala rabies seperti gelisah, sulit bernapas, halusinasi, takut angin dan cahaya, serta kejang-kejang dengan air liur berlebihan sudah terlihat jelas.

“Pasien masuk dengan kondisi yang sangat serius seperti yang terlihat dalam video sebelum akhirnya mengalami koma dan meninggal,” ujar petugas medis.

Setelah menggigit SB, anjing tersebut dibunuh dan dagingnya dibagikan kepada sekitar 17 orang, termasuk tetangga dan keluarga.

“Anjing yang terinfeksi rabies itu telah dimakan secara bersama-sama oleh sekitar 17 orang,” ungkap Raimundus.

Pemerintah desa telah mendata warga yang mengonsumsi daging anjing tersebut dan menyerahkannya ke Dinas Kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, dr. Surip Tintin, menjelaskan bahwa konsumsi daging anjing tidak serta merta menularkan rabies.

Penularan rabies umumnya terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.

Daging anjing yang dimasak matang aman dari rabies karena virus akan mati pada suhu tinggi.

Namun, risiko penularan tetap ada bagi mereka yang mengolah daging mentah anjing yang terinfeksi, terutama jika ada luka yang bisa terkontaminasi air liur atau darah anjing.

“Rabies tidak menular melalui makanan, tetapi melalui gigitan atau air liur hewan pembawa rabies yang mengandung virus. Daging anjing yang sudah dimasak akan membunuh virus tersebut. Yang berbahaya adalah orang yang mengolahnya,” jelas Surip.

Terkait warga yang mengonsumsi daging anjing rabies setelah menggigit SB, mereka tidak perlu diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR).

Namun, penting untuk mengetahui siapa yang pertama kali mengolah daging tersebut agar bisa diberikan vaksin dan serum anti rabies.

“Yang memerlukan VAR adalah korban yang digigit serta pengolah daging anjing yang terinfeksi virus rabies,” tegasnya.

Surip berharap tidak ada warga lain yang menunjukkan gejala rabies. Sebab, jika gejala sudah muncul, pemberian VAR atau serum rabies sudah tidak efektif lagi.

Ia menambahkan, jika gigitan terjadi di area berisiko tinggi seperti wajah, telinga, atau kepala, VAR harus diberikan dalam waktu 24 jam.

Virus rabies bergerak perlahan melalui saraf hingga mencapai batang otak. Bahkan, gejala klinis bisa baru muncul satu tahun setelah gigitan.

Surip mencatat, ada 10 kasus kematian akibat rabies dalam 3 tahun terakhir di Manggarai Timur.