BeritaPemerintahan

Wamenkomdigi Peringatkan AI Gerus Daya Pikir Kritis

21
×

Wamenkomdigi Peringatkan AI Gerus Daya Pikir Kritis

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan risiko serius dari penggunaan kecerdasan buatan yang kian masif. Ia menilai ketergantungan pada artificial intelligence (AI) mulai menggerus kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.

“Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” kata Nezar saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada, Jumat (17/4/2026).

Nezar menegaskan, pengembangan talenta digital tidak bisa hanya bertumpu pada kemampuan teknis. Menurut dia, talenta masa depan juga harus memahami cara berinteraksi dengan AI secara tepat sekaligus mampu mengendalikan penggunaannya.

Ia menyebut desain AI harus menempatkan manusia sebagai pusat. “Desain AI harus human-centric agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia. Dalam pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop,” ujarnya.

Nezar juga menyoroti kecenderungan penggunaan AI yang serba instan. Kondisi itu dinilai berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis apabila tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan.

Karena itu, ia meminta talenta digital tetap mampu mengevaluasi setiap output AI secara kritis. Nezar menekankan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan ke mesin.

Di sisi lain, ia mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab persoalan nyata di sektor strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim. Pendekatan berbasis masalah dinilai penting agar teknologi memberi dampak langsung bagi masyarakat.

“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata di sektor-sektor prioritas,” kata Nezar.

Workshop AI Talent Factory 2 diikuti 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Program ini diarahkan untuk membentuk talenta yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dampak pemanfaatan AI.