Ecozone

Tiga Faktor Utama Ini Menentukan Prospek Rupiah pada Semester II-2026

10
×

Tiga Faktor Utama Ini Menentukan Prospek Rupiah pada Semester II-2026

Sebarkan artikel ini
25f48473e880642c9ccf77caa3ecc9f6.jpg
25f48473e880642c9ccf77caa3ecc9f6.jpg

Jakarta – Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan berat menjelang paruh kedua tahun 2026 setelah mencatatkan pelemahan harian sebesar 0,20% ke level Rp 17.881 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Hingga penghujung Mei, mata uang Garuda telah terdepresiasi sebesar 6,91% secara year to date dibandingkan posisi awal tahun di angka Rp 16.725 per dolar AS.

Para ekonom menilai upaya stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) melalui kenaikan suku bunga belum sepenuhnya mampu menahan tekanan eksternal dan domestik yang menghimpit rupiah. Faktor penyebab depresiasi ini cukup beragam, mulai dari tingginya impor energi, arus keluar modal asing, hingga kebutuhan dolar AS yang bersifat musiman.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan memang memberikan dukungan jangka pendek, namun belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan. Menurutnya, stabilitas rupiah pada semester II-2026 akan sangat bergantung pada tiga syarat utama, yakni meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terjaganya daya tarik aset domestik oleh BI, serta disiplin fiskal pemerintah yang dibarengi dengan efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Jika ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, risiko rupiah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS tetap terbuka lebar. Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada semester II-2026, dengan catatan kondisi global membaik.

Di sisi lain, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyoroti pentingnya menjaga persepsi risiko Indonesia di mata investor global. Saat ini, pasar masih meminta kompensasi risiko yang tinggi, yang tecermin dari tingkat imbal hasil obligasi pemerintah dan Credit Default Swap (CDS).

Syafruddin menekankan bahwa fundamental ekonomi, termasuk kinerja sektor eksternal dan produktivitas belanja pemerintah, akan menjadi penentu apakah rupiah bisa bangkit atau justru semakin tertekan. Berdasarkan proyeksi yang lebih konservatif, ia memprediksi mata uang nasional berpotensi bergerak di rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada paruh kedua tahun ini.

Pasar saat ini juga tengah mengantisipasi arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta arus modal yang keluar akibat sentimen pasar saham. Ketidakpastian mengenai kebijakan fiskal dan kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen maupun utang luar negeri diyakini masih akan menjadi beban berat bagi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan.