Berita

Terabaikan Puluhan Tahun, Fosil Dinosaurus Pertama di Antartika Akhirnya Teridentifikasi

14
×

Terabaikan Puluhan Tahun, Fosil Dinosaurus Pertama di Antartika Akhirnya Teridentifikasi

Sebarkan artikel ini
fosil-dinosaurus-pertama-antartika-tersimpan-di-laci-puluhan-tahun
fosil dinosaurus pertama antartika tersimpan di laci puluhan tahun

Jakarta – Sebuah fosil tulang belakang yang telah disimpan di laci koleksi selama puluhan tahun akhirnya teridentifikasi sebagai kerangka dinosaurus pertama yang ditemukan di Antartika. Spesimen tersebut awalnya ditemukan oleh tim ekspedisi British Antarctic Survey (BAS) pada tahun 1985 dan saat itu hanya diklasifikasikan sebagai reptil purba biasa.

Identifikasi jati diri fosil itu bermula ketika manajer koleksi geologi BAS sekaligus ahli paleontologi, Mark Evans, menaruh perhatian khusus pada tulang tersebut.

“Bentuknya terlihat tidak biasa, jadi saya hanya perlu memastikan apakah dugaan saya benar,” ujar Evans, Selasa (30/6).

Hasil analisis mengungkapkan bahwa fosil tersebut berasal dari kelompok Titanosaurus, yakni jenis dinosaurus herbivora berleher panjang atau sauropoda yang dikenal memiliki ukuran raksasa. Berdasarkan catatan Natural History Museum, kelompok ini memiliki bobot rata-rata 15 metrik ton, dengan spesimen terbesar yang pernah ditemukan mencapai panjang 37 meter dan berat 63,5 metrik ton.

Fosil tulang belakang yang ditemukan tersebut berasal dari individu remaja atau dewasa berukuran kecil. Berdasarkan diameter tulang yang mencapai sekitar 10 sentimeter, panjang tubuh dinosaurus itu diperkirakan hanya berkisar antara 6 hingga 7 meter.

“Tulang ini tersimpan di laci koleksi selama puluhan tahun sampai penelitian baru mengungkap jati diri aslinya, sebuah bukti langka bahwa dinosaurus sauropoda berleher panjang dulunya pernah hidup di Antartika,” ungkap Matthew C. Lamanna, kurator paleontologi vertebrata di Carnegie Museum of Natural History sekaligus salah satu penulis penelitian.

Peneliti utama Natural History Museum, Paul Barrett, menjelaskan bahwa meski sekilas terlihat biasa, fosil ini memegang peranan krusial dalam sejarah penjelajahan Antartika karena statusnya sebagai temuan dinosaurus pertama di benua tersebut. Dinosaurus pemilik tulang ini diketahui hidup pada periode Kapur Akhir atau sekitar 82 juta tahun silam.

“Pada masa itu, kita tahu bahwa Antartika ditutupi oleh hutan beriklim sedang yang subur, menyediakan makanan yang melimpah bagi herbivora besar,” jelas Barrett.

Dia menambahkan, keterbatasan catatan fosil di Antartika saat ini disebabkan oleh lapisan es yang menutupi hampir seluruh wilayah benua tersebut. Namun, ia meyakini kondisi ini berpotensi berubah seiring waktu.

“Kemungkinan masih banyak dinosaurus lain yang belum ditemukan di benua ini. Seiring mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim, kita mungkin akan menemukan lebih banyak bukti tentang keanekaragaman hayati di masa lalu,” tuturnya.

Penelitian ini memberikan wawasan baru terkait pola migrasi dinosaurus di belahan Bumi selatan, mengingat pada periode Kapur, Antartika merupakan bagian dari superbenua Gondwana. Temuan tersebut menjadi indikasi bahwa kerabat dekat dinosaurus ini bermigrasi antara Amerika Selatan dan Australia melalui Antartika.

Dosen paleontologi vertebrata di University of Portsmouth, Roy Smith, yang tidak terlibat dalam riset ini, menyebut penemuan tersebut sebagai pengingat pentingnya pemeliharaan koleksi ilmiah di museum.

“Sebagai fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di Antartika, ini menjadi bukti krusial untuk memahami bagaimana dinosaurus menyebar di benua-benua selatan, sekaligus membuktikan bahwa hewan luar biasa ini dulunya mendiami setiap jengkal benua di Bumi,” pungkas Smith.