Padang, FENESIA – Beberapa karyawan Twitter mengunci akun Twitter miliknya dan menghapus informasi pribadi untuk menghindari serangan dari pendukung Trump.
Cara tersebut mereka lakukan untuk menghindari ‘serangan’ dari pendukung Presiden Donald Trump sebagai aksi balas dendam karena Twitter beberapa waktu lalu memblokir akun milik Trump.
Mengutip dari The Verge, beberapa eksekutif Twitter pun sekarang mendapat pengawalan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
Pada 8 Januari lalu, Twitter menutup permanen akun @realDonaldTrump, dengan alasan kicauan Trump dapat mengajak para pendukungnya untuk melakukan aksi kerusuhan.
Awalnya, Twitter hanya melakukan pemblokiran sementara. Tapi, kemudian lebih dari 300 orang karyawan Twitter menandatangani petisi internal untuk meminta Twitter melakukan pemblokiran permanen, dan CEO Twitter, Jack Dorsey mendukung hal tersebut.
“Aksi tersebut membahayakan Amerika Serikat, perusahaan dan juga karyawan kita,” tulis mereka.
Twitter juga sebaiknya mengevaluasi kebijakan perusahaan karena mungkin turut berperan pada terjadinya kerusuhan.
“Kita bukan pemerintah. Pejabat terplih seharusnya bekerja untuk memperbaiki hal ini dan menyatukan negara kita. Peran kita adalah melakukan segala yang kita bisa untuk mempromosikan diskursus yang sehat, mengetahui bahwa mungkin hal itu takkan selalu diterima dalam jangka pendek, tapi jangka panjang,” ucap Dorsey.
Langkah yang sama juga dilakukan oleh sejumlah platform lain, seperti Snapchat, YouTube, Twitch, dan Facebook. Bahkan, Shopify pun ikut menutup toko kampanye milik Trump, yang menjual berbagai pernak-pernik kampanye ‘Make America Great Again’ dan lain sebagainya.







