Berita

Tahanan Demo Agustus Meninggal Dunia di Rutan Medaeng Surabaya

120
×

Tahanan Demo Agustus Meninggal Dunia di Rutan Medaeng Surabaya

Sebarkan artikel ini
b7db2ef55afa5e145a05560696ddbc26.jpg
b7db2ef55afa5e145a05560696ddbc26.jpg

Surabaya – Seorang tahanan bernama Alfarisi bin Rikosen (21) meninggal dunia di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng, Surabaya, pada Selasa (30/12/2025) pagi. Kematian tahanan politik yang terlibat aksi demonstrasi Agustus 2025 ini memicu sorotan terhadap kondisi penahanan di Indonesia.

Kepala Rutan Kelas I Medaeng, Tristiantoro Adi Wibowo, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menjelaskan Alfarisi menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 06.00 WIB setelah mengalami kejang-kejang.

“Awalnya kejang-kejang. Kami sempat bawa ke poliklinik sebelum akhirnya meninggal dunia. Laporan dokter menunjukkan adanya kondisi gagal nafas,” ujar Tristiantoro.

Alfarisi diketahui mendekam di Rutan Medaeng sejak September 2025, setelah sebelumnya ditahan di Polrestabes Surabaya. Selama masa penahanan, Alfarisi dilaporkan kerap mengalami sakit dan kejang.

“Berdasar pengakuan teman sekamarnya Alfarisi memang sering kejang. Tadi juga pihak keluarga mengakui riwayat penyakit yang diderita almarhum,” imbuh Tristiantoro. Jenazah Alfarisi telah dibawa pihak keluarga ke kampung halamannya di Madura untuk dimakamkan.

Sementara itu, Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya, Fatkhul Khoir, mengungkapkan bahwa Alfarisi ditangkap pada 9 September 2024 dan ditetapkan sebagai terdakwa atas dugaan kepemilikan senjata api, amunisi, atau bahan peledak.

KontraS menyoroti kondisi kesehatan Alfarisi yang menurun drastis selama penahanan. Penurunan berat badan yang mencapai 30-40 kilogram mengindikasikan adanya tekanan psikologis berat serta dugaan tidak terpenuhinya standar minimum kondisi penahanan dan layanan kesehatan.

“Maka, Alfarisi meninggal sebelum memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dan masih berstatus sebagai terdakwa,” kata Fatkhul Khoir.

KontraS Surabaya mendesak pemerintah untuk melakukan penyelidikan independen dan menyeluruh atas kematian Alfarisi, termasuk membuka akses informasi kepada publik dan keluarga korban. Mereka juga menuntut pertanggungjawaban hukum atas setiap tindakan atau kelalaian aparat yang berkontribusi terhadap kematian Alfarisi, serta evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penahanan di Rutan Medaeng dan rutan-rutan lain.