Jakarta – Ketidakpastian geopolitik global yang dipicu oleh konflik Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga emas pada pekan depan. Investor disarankan untuk mencermati dinamika ini, mengingat harga logam mulia berpotensi mengalami tekanan akibat tingginya tensi di Selat Hormuz.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas Antam berpeluang turun ke level Rp 2.749.000 per gram dari posisi saat ini di angka Rp 2.769.000 per gram. Sementara itu, harga emas dunia diprediksi bergerak di kisaran US$ 4.307 hingga US$ 4.444 per troy ons jika tren pelemahan berlanjut.
Ibrahim menilai level harga Rp 2.900.000 per gram bagi emas Antam akan sulit dicapai dalam waktu dekat. Blokade di Selat Hormuz serta keterlibatan Amerika Serikat dalam perang di Timur Tengah menjadi hambatan utama bagi penguatan komoditas emas.
Sebaliknya, potensi kenaikan harga emas ke level US$ 4.639-4.796 per troy ons hanya bisa terjadi jika ketegangan mereda dan Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, pasar masih menghadapi tantangan lain, yakni melonjaknya inflasi di Amerika Serikat yang berpotensi mendorong bank sentral global menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan.
Kondisi ekonomi makro tersebut turut diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang diprediksi berpotensi menembus level Rp 17.800 per dolar AS. Meski harga emas saat ini cenderung fluktuatif dan berisiko turun, Ibrahim melihat momentum ini sebagai peluang bagi masyarakat untuk melakukan investasi.
Strategi koleksi logam mulia dinilai tetap relevan di tengah situasi pasar yang tidak menentu. Sepanjang pekan lalu, harga emas dunia sempat menyentuh angka tertinggi di level US$ 4.767 per troy ons pada Selasa (12/5), sebelum akhirnya terkoreksi hingga perdagangan akhir pekan.














