Jakarta – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra memanfaatkan kayu hanyutan untuk mempercepat pembangunan kembali wilayah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pemanfaatan kayu hanyutan ini merupakan langkah strategis.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan langkah ini juga untuk memastikan material yang tersedia di lapangan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Tito menyebutkan ketersediaan kayu hanyutan sangat melimpah, terutama di Aceh.
“Di Aceh sangat, sangat banyak sekali. Itu lautan… lautan kayu. Jadi kalau mau dibuat kayu bakar gampang, bisa,” ujarnya dalam rapat dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Rabu (25/2).
Data Satgas PRR per 28 Februari mencatat realisasi pemanfaatan kayu hanyutan telah berjalan di sejumlah wilayah.
Di Aceh, Kabupaten Aceh Utara mencatat 2.112,11 meter kubik kayu digunakan untuk pembangunan hunian sementara.
Kabupaten Aceh Tamiang mencatat 572,4 meter kubik kayu menunggu kebijakan pemerintah daerah terkait peruntukannya.
Di Sumatra Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan memanfaatkan 329,24 meter kubik kayu untuk hunian sementara, fasilitas sosial, dan fasilitas umum.
Kabupaten Tapanuli Tengah menggunakan 93,39 meter kubik kayu untuk pemulihan rumah warga terdampak.
Sementara itu, di Sumatra Barat, Kota Padang telah menyerahkan 1.996,58 meter kubik kayu hanyutan kepada pemerintah daerah.
Kayu ini akan dimanfaatkan sesuai kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Langkah ini selaras dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191 tahun 2026.
Keputusan ini mengatur pemanfaatan kayu hanyutan sebagai sumber daya material untuk mendukung penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Menurut Tito, optimalisasi kayu hanyutan bukan hanya mempercepat penyediaan hunian dan sarana pendukung.
Tetapi juga menjadi bagian dari upaya penataan kawasan terdampak agar lebih bersih, aman, dan tertata.













