Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) resmi menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp21,9 triliun dari laba tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada Senin (8/6). Dengan total nilai tersebut, setiap pemegang saham akan menerima dividen sekitar Rp221 per lembar saham atau setara dengan Rp22.100 per lot sebelum dipotong pajak.
Langkah korporasi ini menarik perhatian pasar karena nilai dividen yang dibagikan mencapai 123 persen dari total laba bersih tahun 2025. Manajemen Telkom mengalokasikan sekitar Rp4,2 triliun dari laba ditahan tahun-tahun sebelumnya untuk melengkapi pembayaran dividen tersebut, menjadikan TLKM sebagai salah satu emiten dengan imbal hasil atau dividend yield tertinggi di Bursa Efek Indonesia tahun ini.
Momentum pembagian dividen ini bertepatan dengan kondisi harga saham TLKM yang mengalami tekanan pasar. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6), harga saham TLKM berada di level Rp2.350 setelah terkoreksi 14,86 persen atau 410 poin. Penurunan harga saham yang signifikan ini secara otomatis mengerek potensi dividend yield TLKM hingga mencapai 9,4 persen. Angka ini menempatkan TLKM sebagai salah satu saham kategori blue chip dengan imbal hasil dividen paling atraktif bagi investor yang memburu pendapatan pasif di tengah fluktuasi pasar keuangan global.
Terkait jadwal distribusi, perseroan menetapkan pembayaran akan dilakukan paling lambat pada 10 Juli 2026. Investor yang berhak menerima dividen adalah mereka yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada penutupan perdagangan tanggal 19 Juni 2026. Pihak manajemen mengimbau investor untuk memperhatikan jadwal cum dividen dan ex dividen yang akan difinalisasi oleh Bursa Efek Indonesia. Sebagai informasi, cum dividen merupakan batas akhir periode pembelian saham agar investor tetap memiliki hak atas dividen, sementara pembelian pada tanggal ex dividen atau setelahnya tidak lagi mendapatkan hak tersebut.
Secara fundamental, Telkom mencatatkan kinerja operasional yang solid di tengah ketatnya kompetisi industri telekomunikasi sepanjang 2025 dengan pendapatan mencapai Rp146,74 triliun dan EBITDA sebesar Rp72,24 triliun. Adapun laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp17,81 triliun. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa penurunan laba bersih dipicu oleh percepatan depresiasi sebagai konsekuensi dari program total governance reset. Namun, Dian menegaskan bahwa dampak tersebut bersifat non-cash sehingga tidak mengganggu stabilitas arus kas perusahaan.
Keputusan pembagian dividen jumbo ini merupakan bentuk keseimbangan antara kewajiban memberikan nilai tambah kepada pemegang saham dan kebutuhan menjaga investasi jangka panjang. Meskipun menghadapi tekanan industri, Telkom tetap mempertahankan posisinya sebagai emiten telekomunikasi terbesar dengan basis pelanggan luas serta kontribusi bisnis digital yang kuat. Investor kini tengah mencermati kemampuan perusahaan untuk tetap menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mempertahankan kebijakan dividen yang atraktif di masa mendatang. Bagi pelaku pasar, kombinasi dari status blue chip, fundamental yang kokoh, dan potensi yield di atas 9 persen menjadikan saham TLKM sebagai instrumen yang patut diperhatikan menjelang periode cum dividen.







