Berita

Sabo Dam Tahan Material Banjir, Selamatkan Permukiman Warga Tanah Datar

103
×

Sabo Dam Tahan Material Banjir, Selamatkan Permukiman Warga Tanah Datar

Sebarkan artikel ini
sabo-dam-tahan-galodo,-kementerian-pu-segera-normalisasi-sungai
sabo dam tahan galodo, kementerian pu segera normalisasi sungai

Tanah Datar – Sabo Dam di aliran Sungai Batang Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terbukti efektif menahan material banjir bandang yang menerjang Nagari Guguak Malalo. Infrastruktur yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini berhasil meminimalisir dampak kerusakan parah pada permukiman warga, meskipun mengalami kerusakan akibat terjangan material.

Banjir bandang kali ini disebut lebih dahsyat dibandingkan peristiwa serupa pada tahun 2012. Namun, Sabo Dam berhasil meredam sebagian besar material dari hulu sungai, menyelamatkan banyak rumah warga.

Sekretaris Nagari Guguak Malalo, Rizal Ramli, menyatakan Sabo Dam sangat penting bagi keselamatan warganya. “Alhamdulillah karena ada Sabo Dam ini material banyak tertahan di atas, sehingga banyak rumah yang terselamatkan,” ujarnya.

Keberadaan Sabo Dam juga memberikan waktu bagi warga untuk meningkatkan kewaspadaan. “Dengan adanya Sabo Dam ini kami bisa memantau keadaan air dan mengimbau warga untuk mengungsi,” imbuhnya.

Menteri PU menyatakan kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU krusial dalam penanganan bencana. Pemanfaatan Sabo Dam merupakan bagian dari strategi penguatan ketahanan air dan pangan di wilayah rentan bencana.

Sabo Dam dirancang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian secara teratur dan efisien, serta mendukung sistem irigasi. Namun, bencana juga menyebabkan terputusnya jaringan irigasi di enam daerah irigasi seluas sekitar 100 hektare.

Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V terus berupaya melakukan penanganan darurat dan pemulihan bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.

Kepala BWS Sumatera V, Naryo Widodo, menjelaskan fokus utama saat ini adalah normalisasi Sungai Batang Malalo sepanjang sekitar 1,5 kilometer. “Guna mengembalikan kapasitas alur sungai dan mengurangi potensi banjir susulan,” katanya.

Naryo menambahkan, Sabo Dam memiliki fungsi strategis menahan sedimen dan mengurangi energi banjir bandang. “Meski terdampak dan mengalami kerusakan, keberadaannya telah membantu mengurangi risiko yang lebih besar,” tuturnya.

Tanah Datar – Sabo Dam di aliran Sungai Batang Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terbukti efektif menahan material banjir bandang yang menerjang Nagari Guguak Malalo.

Infrastruktur yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini, meskipun mengalami kerusakan, berhasil meminimalisir dampak parah pada permukiman warga.

Banjir bandang kali ini disebut lebih dahsyat dari peristiwa serupa pada 2012. Namun, Sabo Dam berhasil meredam sebagian besar material dari hulu, menyelamatkan banyak rumah warga.

Sekretaris Nagari Guguak Malalo, Rizal Ramli, menyatakan Sabo Dam sangat penting bagi keselamatan warganya. “Alhamdulillah karena ada Sabo Dam ini material banyak tertahan di atas, sehingga banyak rumah yang terselamatkan,” ujarnya.

Keberadaan Sabo Dam juga memberikan waktu bagi warga untuk meningkatkan kewaspadaan. “Dengan adanya Sabo Dam ini kami bisa memantau keadaan air dan mengimbau warga untuk mengungsi,” imbuhnya.

Menteri PU menyatakan kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU krusial dalam penanganan bencana. Pemanfaatan Sabo Dam merupakan bagian dari strategi penguatan ketahanan air dan pangan di wilayah rentan bencana.

Sabo Dam dirancang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian secara teratur dan efisien, serta mendukung sistem irigasi. Namun, bencana juga menyebabkan terputusnya jaringan irigasi di enam daerah irigasi seluas sekitar 100 hektare.

Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V terus berupaya melakukan penanganan darurat dan pemulihan bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.

Kepala BWS Sumatera V, Naryo Widodo, menjelaskan fokus utama saat ini adalah normalisasi Sungai Batang Malalo sepanjang sekitar 1,5 kilometer. “Guna mengembalikan kapasitas alur sungai dan mengurangi potensi banjir susulan,” katanya.

Naryo menambahkan, Sabo Dam memiliki fungsi strategis menahan sedimen dan mengurangi energi banjir bandang. “Meski terdampak dan mengalami kerusakan, keberadaannya telah membantu mengurangi risiko yang lebih besar,” tuturnya.