Ecozone

Rupiah Tertekan, Investor Beralih ke Dolar AS dan Franc Swiss

70
×

Rupiah Tertekan, Investor Beralih ke Dolar AS dan Franc Swiss

Sebarkan artikel ini
98a6095ee54e184766f5500a6eab1548.jpg
98a6095ee54e184766f5500a6eab1548.jpg

Jakarta – Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai 6,8 persen secara year-to-date (YTD) mendorong investor domestik beralih ke mata uang asing sebagai instrumen lindung nilai atau hedging. Langkah ini diambil untuk mengamankan nilai aset dari tekanan volatilitas pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 17.801 per dolar AS pada Rabu (27/5), mencatatkan depresiasi harian sebesar 0,03 persen. Tekanan ini tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga merambah ke berbagai mata uang global lainnya seperti franc Swiss, poundsterling, hingga dolar Singapura.

Pengamat pasar keuangan menilai dolar AS tetap menjadi instrumen favorit bagi investor untuk melakukan hedging. Hal ini didorong oleh status dolar AS sebagai mata uang utama dunia yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap aliran modal keluar dari negara berkembang atau emerging markets.

Selain dolar AS, franc Swiss (CHF) juga mulai dilirik oleh para pemodal. Mata uang ini dinilai sebagai aset safe haven yang ideal di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global yang sering memicu fase risk-off di pasar keuangan.

Meski potensi keuntungan atau capital gain dari instrumen valas terlihat menarik, para investor ritel diingatkan untuk tidak bersikap agresif. Strategi akumulasi secara bertahap dinilai sebagai langkah yang jauh lebih aman dibandingkan melakukan pembelian dalam skala besar sekaligus.

Investor juga perlu memperhatikan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang, seperti potensi intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah serta dinamika suku bunga The Fed. Selain itu, potensi penguatan rupiah pada kuartal ketiga akibat penurunan permintaan dolar domestik menjadi faktor yang patut diwaspadai.

Proyeksi ke depan menunjukkan pasangan USD/IDR berpotensi bergerak di rentang 18.000 hingga 18.500 hingga semester pertama tahun 2026. Sementara itu, CHF/IDR diperkirakan berada di kisaran 22.800 hingga 23.200, dan SGD/IDR diprediksi menyentuh level 14.200 hingga 14.400.