Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari Selasa (5/12).
Mata uang Garuda tertekan 24 poin atau 0,14 persen, parkir di level Rp 16.691 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah perhatian pasar global yang tertuju pada kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan pasar sedang menanti sejumlah data penting dari Negeri Paman Sam.
Data yang dinanti termasuk data penggajian non-pertanian (NFP) untuk November.
NFP diperkirakan menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja AS.
Angka NFP diprediksi hanya bertambah sekitar 25 ribu pekerjaan, jauh di bawah angka normal di atas 100 ribu.
Selain itu, investor juga menantikan data indeks harga konsumen AS untuk bulan November.
“Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar The Fed untuk mengubah kebijakan,” jelas Ibrahim.
Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga ikut melemah ke level Rp 16.693 per dolar AS.












