Fenesia – Penembakan seorang wanita bernama Renee Nicole Good oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Minneapolis, Amerika Serikat, memicu kontroversi dan sorotan tajam. Renee, ibu tiga anak berusia 37 tahun, tewas dalam insiden yang kini memicu tuntutan penyelidikan mendalam.
Renee, yang dikenal sebagai penyair dan penulis, baru saja pindah ke Minnesota. Informasi ini terungkap dari akun Instagram pribadinya, yang kini telah diprivat.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyebut Renee sebagai “teroris domestik,” dan membela tindakan agen ICE yang menembaknya.
Penyair dan Ibu yang Aktif
Renee lahir di Colorado Springs, Colorado, dan merupakan lulusan Old Dominion University (ODU) di Virginia dengan gelar di bidang Bahasa Inggris. Ia bahkan meraih penghargaan dari Academy of American Poets saat masih di ODU.
Semasa hidupnya, Renee dikenal aktif di media sosial, kerap membagikan momen kebersamaan dengan keluarganya. Ia memiliki tiga anak, seorang putri berusia 15 tahun dan dua putra berusia 12 dan 6 tahun.
Kematian yang Mengundang Tanda Tanya
Ibu Renee, Donna Ganger, membantah bahwa putrinya terlibat dalam protes terhadap ICE. Menurutnya, Renee adalah sosok yang penyayang dan selalu peduli terhadap orang lain.
Penembakan terjadi saat ICE melakukan operasi imigrasi di Minneapolis. Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri, Tricia McLaughlin, mengklaim bahwa Renee menolak perintah untuk keluar dari mobil dan berusaha menabrak seorang petugas ICE.
Reaksi Pejabat Minnesota
Gubernur Minnesota, Tim Walz, dan Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, mengecam tindakan agen ICE dan menyalahkan Presiden Donald Trump atas provokasi yang memicu insiden tersebut. Gubernur Colorado, Jared Polis, juga menyerukan penyelidikan lebih lanjut atas kematian Renee.
Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi terkait operasi ICE di bawah pemerintahan Trump, yang kerap menuai protes karena dianggap terlalu represif. Demonstrasi anti-ICE semakin sering terjadi di berbagai kota di AS, menyuarakan penolakan terhadap kebijakan imigrasi yang dianggap diskriminatif.







