Jakarta – Industri reksadana domestik menghadapi tantangan berat sepanjang Mei 2026 akibat sentimen risk-off yang mendominasi pasar keuangan global. Ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan penguatan indeks dolar Amerika Serikat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak langsung pada performa aset investasi.
Data Infovesta mencatat reksadana saham menjadi instrumen dengan koreksi terdalam, yakni mencapai 10,22% secara bulanan dan 17,66% sejak awal tahun. Tren serupa dialami reksadana campuran yang melemah 5,13% pada Mei 2026 atau 8,71% secara tahun berjalan.
Di sisi lain, reksadana pasar uang tetap menunjukkan ketahanan dengan membukukan imbal hasil positif sebesar 0,27% secara bulanan. Reksadana pendapatan tetap turut mencatatkan kenaikan tipis 0,22% pada periode yang sama, meskipun secara year to date masih terkoreksi 0,62% akibat volatilitas yield Surat Utang Negara.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menjelaskan bahwa tekanan pasar dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Selain kenaikan yield US Treasury, pasar dalam negeri juga tertekan oleh pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan minat investor asing, serta proses rebalancing indeks MSCI.
Menanggapi kondisi ini, manajer investasi kini lebih mengedepankan strategi manajemen risiko yang ketat. Untuk instrumen pendapatan tetap, fokus dialihkan pada obligasi tenor pendek hingga menengah guna memitigasi risiko kenaikan yield.
Pada portofolio saham, manajer investasi bersikap lebih selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, neraca keuangan sehat, serta arus kas solid. Emiten sektor ekspor dan perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki pelindung alami terhadap pelemahan rupiah.
Reza menekankan bahwa fokus utama saat ini bukan mengejar keuntungan agresif jangka pendek, melainkan menjaga imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko. Investor disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian sekaligus di tengah sensitivitas pasar saat ini.
Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih relevan untuk mengurangi risiko waktu (timing risk) bagi investor yang ingin masuk ke pasar saham. Sementara bagi investor konservatif, reksadana pasar uang dan pendapatan tetap masih menjadi pilihan paling aman di tengah tingginya volatilitas pasar.
Memasuki Juni 2026, volatilitas diperkirakan masih berlanjut. Kinerja reksadana saham dan campuran ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, aliran dana asing, serta kepastian kebijakan moneter global yang lebih konkret.







