Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mengebut pembangunan Bendungan Karangnongko. Proyek strategis ini ditargetkan rampung pada 2026 demi mendukung swasembada pangan dan air nasional.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menekankan pentingnya pengelolaan air bendungan secara komprehensif. Ketersediaan air sepanjang tahun bagi daerah irigasi menjadi kunci utama.
“Dengan selesainya pembangunan fisik bendungan, fokus selanjutnya adalah percepatan pengembangan jaringan irigasi teknis,” tegas Dody, Sabtu (2/8/2025).
Langkah ini krusial untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan frekuensi panen petani.
Bendungan Karangnongko berlokasi di perbatasan Kabupaten Bojonegoro dan Blora, tepatnya di Desa Ngelo dan Desa Mendenrejo.
Pembangunannya merupakan bagian dari strategi PU608 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo memulai konstruksi bendungan ini sejak 2023 dengan nilai kontrak Rp1,26 triliun.
Bendungan ini memiliki kapasitas tampung 59,1 juta m3 dan dirancang untuk mengairi 63.774 hektare lahan irigasi.
Rinciannya, 1.746 ha di Kabupaten Blora dan 5.203 ha di Kabupaten Bojonegoro akan mendapatkan manfaat irigasi.
Selain irigasi, bendungan ini juga diproyeksikan menyuplai air ke kawasan Solo Valley Werken dan menjadi pengendali banjir untuk wilayah Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya seluas 62.000 ha.
Bendungan Karangnongko juga akan menambah cadangan air baku sebesar 1.150 liter/detik untuk Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, Blora, dan Tuban.
Dengan demikian, kebutuhan air minum bagi 270.305 jiwa dapat terpenuhi.
Fungsi lainnya adalah mereduksi debit banjir Sungai Bengawan Solo hingga 760 ha, membantu pengendalian banjir di wilayah hilir Kabupaten Lamongan.







