Berita

BMKG Pastikan Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Suhu Dingin di Indonesia

14
×

BMKG Pastikan Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Suhu Dingin di Indonesia

Sebarkan artikel ini
benarkah-fenomena-aphelion-2026-memicu-cuaca-dingin-di-indonesia?
benarkah fenomena aphelion 2026 memicu cuaca dingin di indonesia?

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menepis anggapan masyarakat yang mengaitkan fenomena aphelion dengan cuaca dingin ekstrem di Indonesia. Lembaga tersebut menegaskan, suhu dingin yang dirasakan di berbagai wilayah tanah air tidak dipicu oleh fenomena astronomis tersebut.

Aphelion merupakan fenomena tahunan saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari. Tahun ini, fenomena tersebut terjadi pada 6 Juli. Secara bahasa, istilah ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni “apo” yang berarti jauh dan “helios” yang berarti Matahari.

Dalam lintasannya, Bumi mengelilingi Matahari dengan orbit elips. Hal ini menyebabkan Bumi memiliki titik terdekat yang disebut perihelion dan titik terjauh yang dikenal sebagai aphelion.

Meskipun jarak Bumi ke Matahari saat aphelion sedang berada di titik terjauh, posisi tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi atmosfer maupun cuaca di permukaan Bumi.

BMKG menjelaskan, penurunan suhu yang terjadi di Indonesia merupakan fenomena alamiah yang lazim saat puncak musim kemarau, tepatnya dalam rentang Juli hingga September.

Pada periode tersebut, wilayah dari Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur tengah mengalami musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia.

Menurut BMKG, wilayah Australia pada bulan Juli sedang mengalami musim dingin. Pola tekanan udara yang relatif tinggi di sana memicu pergerakan massa udara menuju Indonesia atau yang dikenal dengan istilah Monsun Dingin Australia.

Angin monsun tersebut melewati perairan Samudra Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut relatif dingin. Kondisi ini mengakibatkan suhu udara di beberapa wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa, terasa lebih dingin.

Selain pengaruh angin dari Australia, minimnya tutupan awan dan curah hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara juga berperan penting terhadap suhu dingin di malam hari. Hal itu terjadi karena tidak adanya uap air yang mampu menahan energi radiasi yang dilepaskan Bumi pada malam hari untuk tersimpan di atmosfer.

Langit yang cenderung cerah menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang langsung terlepas ke atmosfer luar. Akibatnya, udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada waktu malam hingga pagi hari.

BMKG menambahkan, fenomena suhu dingin ini merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun.

Bahkan, penurunan suhu ini berpotensi menyebabkan munculnya embun es atau embun upas di beberapa lokasi, seperti di Dieng maupun dataran tinggi dan wilayah pegunungan lainnya.