Jakarta – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat dalam menjaga profitabilitas pada kuartal II-2026. Meski mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan volume penjualan, kenaikan biaya produksi yang dipicu oleh tingginya harga energi dinilai masih menekan kinerja margin perseroan.

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa pemulihan industri semen nasional saat ini belum sepenuhnya sehat. Hal ini tercermin dari laba bersih SMGR pada kuartal I-2026 yang hanya mencapai Rp 80 miliar.

“Kondisi industri belum sehat karena laba bersih tergerus oleh margin yang rendah akibat krisis energi,” ujar Harry.

Secara performa kuartal I-2026, SMGR sebenarnya mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 8,29 triliun atau naik 8,3 persen secara tahunan. Capaian tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan domestik sebesar 5,4 persen dan peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 2,2 persen.

Namun, realisasi laba bersih tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar. Tingginya beban pajak dan lonjakan biaya produksi menjadi faktor utama yang membebani efisiensi perusahaan.

Harry memperkirakan tren negatif ini akan berlanjut pada kuartal II-2026. Ia menilai belum ada indikator yang menunjukkan perbaikan signifikan bagi sektor semen dalam jangka pendek, terutama karena tekanan biaya energi serta potensi pelemahan rupiah dan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pasar kini tengah mencermati kebijakan terkait revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara. Harry menilai, normalisasi RKAB batu bara nantinya dapat membantu menekan harga komoditas tersebut, yang secara langsung akan berdampak positif pada perbaikan margin emiten semen.

Sejalan dengan kondisi tersebut, analis UBS Sekuritas Indonesia, Ivan Reynaldo Sutheja, tetap mempertahankan rekomendasi netral untuk saham SMGR dengan target harga Rp 2.700 per saham. Sementara itu, konsensus analis lain mematok target harga yang lebih optimis di level Rp 3.000 per saham.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *