Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp 17.668 pada perdagangan Senin (18/5/2026) mulai memicu kekhawatiran bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Volatilitas mata uang ini menjadi tantangan besar, terutama bagi perusahaan yang memiliki beban utang valuta asing tinggi namun mengandalkan pendapatan domestik dalam rupiah.

Pengamat Pasar Modal, Edwin Sebayang, mengungkapkan bahwa risiko paling berat ditanggung oleh emiten yang tidak memiliki strategi lindung nilai atau hedging yang mumpuni. Menurutnya, sektor properti dan konstruksi menjadi salah satu yang paling rentan karena memiliki leverage tinggi serta ketergantungan pada pembiayaan yang sensitif terhadap suku bunga.

Beberapa emiten properti yang disorot meliputi PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), hingga PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Selain sektor properti, industri aviasi dengan emiten PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) juga tertekan oleh biaya sewa pesawat dan avtur yang berbasis dolar AS.

Dampak pelemahan rupiah juga merambah ke sektor manufaktur, farmasi, serta peternakan. Sektor farmasi seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofarma Tbk (INAF) menghadapi tantangan margin karena ketergantungan bahan baku impor yang mencapai 85% hingga 95%. Begitu pula dengan sektor poultry (pakan ternak) dan otomotif yang terpapar kenaikan biaya impor.

Sebaliknya, emiten yang bergerak di sektor komoditas ekspor justru diuntungkan oleh tren ini. Perusahaan di sektor batu bara seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), serta emiten berbasis nikel dan mineral dinilai memiliki prospek yang lebih resilien berkat pendapatan dalam dolar AS.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyarankan agar investor lebih selektif dalam memilih portofolio saham di tengah tekanan makroekonomi ini. Ia menekankan pentingnya mencermati fundamental perusahaan, terutama kemampuan emiten dalam melakukan efisiensi biaya dan menjaga margin operasional.

Sementara itu, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyebutkan bahwa beberapa perusahaan consumer goods dengan rantai pasok dari hulu ke hilir yang kuat, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR), memiliki ketahanan yang lebih baik.

Para analis sepakat bahwa dalam kondisi pasar yang didorong oleh faktor makro (macro-driven), investor perlu mengutamakan emiten dengan arus kas solid, utang valas rendah, dan strategi bisnis yang mampu menyesuaikan diri dengan fluktuasi nilai tukar. Fokus pada kualitas neraca dan menghindari saham yang hanya terlihat murah secara harga menjadi kunci utama bagi investor saat ini.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *