Aceh – Penanganan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh akhir November lalu kini memasuki fase krusial. Fokus utama diarahkan pada pemulihan konektivitas jalur darat yang rusak parah serta distribusi energi vital. Upaya kolaboratif dari PT Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Pekerjaan Umum terus digencarkan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah tantangan yang berat.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara mengambil langkah strategis dengan menempuh jalur laut untuk pengiriman LPG ke Banda Aceh. Sebanyak 990 metrik ton LPG baru-baru ini dikirimkan menggunakan kapal Ro-Ro dari Lhokseumawe. Metode ini dipilih untuk menjaga ketersediaan LPG tetap stabil, mengingat akses darat di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih akibat bencana.
Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa distribusi BBM juga menghadapi tantangan signifikan di Aceh Tamiang. Pertamina memperkuat pasokan melalui jalur distribusi yang masih dapat dilalui, bahkan mengoperasikan dua SPBU di Aceh Tamiang dengan genset karena pasokan listrik belum pulih. Solusi sementara seperti penyaluran BBM menggunakan drum dan sistem sedot manual juga diterapkan di tengah keterbatasan sarana operasional.
Dari sisi infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melaporkan puluhan jembatan penghubung antarkota dan kabupaten di Aceh mengalami kerusakan berat, dengan 18 jembatan utama pada ruas jalan nasional dilaporkan putus. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa penanganan darurat dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah, dengan prioritas utama pada pemulihan konektivitas untuk mendukung distribusi bantuan kemanusiaan dan aktivitas masyarakat.
Pemulihan di wilayah Aceh bagian tengah menjadi lebih kompleks karena banyaknya jembatan yang hanyut. Kementerian PU menargetkan pemasangan jembatan Bailey di Jembatan Teupin Mane pada ruas Kota Bireuen–Batas Bener Meriah selesai pada 15 Desember 2025. Sementara itu, akses menuju Aceh Tengah yang terdampak enam jembatan putus diharapkan pulih bertahap dengan target penyelesaian akhir Desember 2025. Penanganan ruas Blangkejeren–Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara dijadwalkan selesai pada 28 Desember 2025.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana banjir dan tanah longsor pada 26 November 2025 telah menewaskan 419 orang dan menyebabkan 32 orang lainnya hilang. Kerugian infrastruktur, terutama di lintas tengah Aceh dengan 13 jembatan terputus, menunjukkan skala kerusakan yang masif. Pemasangan material bronjong, armco, dan geotekstil terus dilakukan secara bertahap oleh Kementerian PU untuk mempercepat pemulihan.
Masyarakat diimbau untuk membeli BBM secara bijak sesuai kebutuhan dan mengatur waktu pengisian guna menghindari penumpukan di SPBU. Fahrougi menambahkan bahwa pemulihan distribusi energi berlangsung bertahap, melibatkan berbagai pihak, dan fokus utama diarahkan pada layanan publik, rumah sakit, serta kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.







