Moskow – Krisis bahan bakar avtur dan diesel imbas konflik Timur Tengah meluas di Asia. Eropa diperkirakan akan merasakan dampaknya pada April atau Mei.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengungkapkan hal tersebut.
Birol menyoroti masalah utama saat ini adalah kelangkaan bahan bakar pesawat jet dan diesel.
“Ini menjadi tantangan utama. Kita sudah melihatnya di Asia, tetapi akan segera sampai, saya rasa pada April, akan sampai ke Eropa, atau mungkin awal Mei,” ujar Birol.
Ia menambahkan, volume minyak yang hilang pada April akan dua kali lipat dibandingkan Maret.
Situasi ini berpotensi memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
Negara berkembang dengan keterbatasan devisa akan paling merasakan dampaknya.
CEO Lufthansa, Carsten Spohr, juga memperingatkan ancaman kelangkaan bahan bakar jet.
Kelangkaan ini terutama terjadi di luar Eropa, akibat gangguan pasokan yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, AS dan Israel menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari.
Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi ini menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Situasi tersebut berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan, mendorong kenaikan harga.













