Jakarta – Pelaut Indonesia berjuang hadapi ombak setinggi sembilan meter hingga ancaman perompak bersenjata api saat bertugas di tengah laut.
Mereka mempertaruhkan nyawa demi menjaga pasokan energi nasional tetap aman.
Kapten Andhika Dwi Cahyo, yang pernah menjadi nakhoda kapal tanker minyak mentah di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, mengungkapkan pengalamannya menghadapi ganasnya ombak.
“Pada dasarnya, pelaut Indonesia punya kemampuan yang tidak kalah dari pelaut-pelaut luar negeri,” kata Andhika yang kini menjabat sebagai master kapal Pertamina Gas 1, dalam keterangan tertulis.
Ia menekankan pentingnya pelaut Indonesia terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang regulasi pelayaran internasional.
Selain cuaca ekstrem, ancaman perompak juga menjadi momok bagi pelaut Indonesia.
Kapten Adi Nugroho, yang telah berlayar selama hampir 30 tahun, menceritakan modus operandi perompak di sekitar Palawan, Filipina.
“Ada sejumlah nelayan yang suka menawarkan ikan yang kapalnya cepat sekali, tapi itu sebenarnya kamuflase saja karena mereka membawa senjata laras panjang,” ungkap Adi.
Sementara itu, 3rd Officer Eka Retno Ardianti, seorang pelaut perempuan di PIS, harus berjuang melawan stigma bahwa dunia pelaut tidak cocok untuk perempuan.
“Tapi mereka akhirnya melunak, dan saya sekarang bisa kerja sambil jalan-jalan,” ujar Eka.
Eka memulai karirnya sebagai pelaut dari jenjang kadet pada tahun 2017.
Ia mengapresiasi PIS yang memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan pelaut perempuan.
“Saya merasakan selama ini sudah memberikan kebijakan yang afirmatif yang mendorong pekerja perempuan untuk berkarier secara aman dan nyaman,” jelas Eka.







