Jakarta – Nothing membatalkan rencana merilis penerus CMF Phone 2 Pro pada 2026 di tengah lonjakan harga RAM di pasar global. Keputusan itu diambil karena perusahaan menilai ponsel baru tersebut belum bisa hadir sebagai lompatan yang benar-benar berarti dengan harga yang tetap masuk akal untuk lini CMF.
Akis Evangelidis, salah satu pendiri Nothing, mengatakan perusahaan sebenarnya sedang menggarap model penerus CMF Phone 2 Pro. Namun, tingginya harga memori membuat perusahaan kesulitan menghadirkan perangkat yang sesuai target harga sekaligus tetap terasa sebagai peningkatan nyata.
“Kami sebenarnya sedang menggarap model penerusnya, tetapi mengingat harga memori yang saat ini sedang tinggi, kami tidak bisa membuat ponsel yang terasa sebagai lompatan kemajuan yang sesungguhnya dengan harga yang masuk akal bagi CMF. Alhasil, kami memutuskan untuk tidak meluncurkan ponsel CMF baru tahun ini,” kata Evangelidis di X, Jumat (19/6).
Ia menambahkan, perusahaan memilih bersikap terbuka alih-alih merilis produk yang tidak mereka banggakan.
Alasan di balik batalnya CMF Phone 2 Pro
Sebagai submerek yang menyasar perangkat ekonomis, CMF berada dalam posisi sulit akibat kenaikan harga komponen, terutama RAM. Jika dipaksakan meluncur, harga jual perangkat itu dikhawatirkan tidak lagi kompetitif di kelasnya.
Untuk menggambarkan dampaknya, lini ponsel Nothing sebelumnya memiliki skema harga yang relatif berbeda. CMF Phone 1 yang dirilis pada 2024 dibanderol US$200 atau sekitar Rp3,57 juta sebagai opsi value for money.
Sementara itu, Nothing Phone (2) dipasarkan sebagai ponsel flagship utama dengan harga US$599 atau sekitar Rp10,69 juta.
Adapun CMF Phone 2 Pro, menurut Evangelidis, jika diluncurkan hari ini harganya akan sekitar 50 persen lebih mahal dari target awal akibat beban harga RAM.
Harga HP lebih mahal
Dikutip dari PCMag, perusahaan riset pasar TrendForce memprediksi konsumen akan membayar 10 persen lebih mahal untuk smartphone pada 2026 akibat tingginya harga memori.
Meski begitu, Evangelidis menegaskan Nothing masih menyiapkan sejumlah pengumuman untuk submerek CMF dalam waktu dekat. Ia menyebut akan ada beberapa produk baru, termasuk kategori yang benar-benar baru.
“Kami akan meluncurkan beberapa produk baru, serta beberapa kategori yang benar-benar baru. Informasi lebih lanjut akan segera kami bagikan!” tulisnya.
Pembatalan ini sendiri tidak sepenuhnya mengejutkan. Sebelumnya, CEO Nothing Carl Pei telah secara terbuka membahas dampak kelangkaan RAM terhadap pembeli smartphone.
Pada awal bulan ini, Pei juga sempat mendesak konsumen untuk membeli sekarang agar terhindar dari kenaikan harga di masa mendatang. Saat itu, ia sudah mengisyaratkan bahwa kelangkaan tersebut akan memengaruhi penawaran produk Nothing, meski baru kali ini ada pembatalan yang diumumkan secara resmi.
Diprediksi sampai 2030
Kelangkaan chip global diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat, bahkan bisa berlangsung hingga 2030. Chairman SK Hynix, Chey Tae Won, menyebut krisis pasokan DRAM yang terjadi saat ini berpotensi berlanjut melewati 2028.
Prediksi itu jauh lebih panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya yang hanya sekitar dua tahun. Sebelumnya, sejumlah analis menilai krisis memori akan mereda dalam kurun waktu tersebut seiring beroperasinya pabrik-pabrik baru.
Namun, bos semikonduktor Korea Selatan itu memperkirakan kelangkaan akan berlangsung selama empat atau lima tahun.
“Jadi, kami membutuhkan waktu untuk meningkatkan produksi wafer, setidaknya empat hingga lima tahun. Kekurangan pasokan saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2030, sehingga kami memperkirakan kekurangan pasokan wafer akan mencapai lebih dari 20 persen,” kata Chey, melansir PCMag, Rabu (18/3).







