Ecozone

BPS Ungkap Penyebab Penurunan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026

1
×

BPS Ungkap Penyebab Penurunan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026

Sebarkan artikel ini
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memberikan keterangan pers terkait survei literasi keuangan syariah 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan penyebab penurunan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah 2026.

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah nasional pada Selasa (11/8/2026) akibat adanya perubahan metodologi cakupan survei yang lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa perbedaan cakupan pengukuran menjadi faktor utama yang memengaruhi perbandingan data antara tahun 2026 dan 2025.

Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 kini telah mencakup data hingga tingkat provinsi, berbeda dengan survei tahun lalu yang hanya terbatas pada skala nasional.

“Mungkin waktu itu kan levelnya masih nasional, sekarang kan kita sudah lebih komprehensif sampai tingkat provinsi,” kata Amalia Adininggar Widyasanti.

Hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan syariah berada di angka 43,07%, sedikit menurun dari capaian tahun 2025 yang sebesar 43,42%.

Indeks inklusi keuangan syariah juga tercatat mengalami penurunan menjadi 13,24% dari posisi sebelumnya di angka 13,41%.

Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa perbedaan cakupan data tersebut memerlukan analisis lebih lanjut agar perbandingan hasil survei dapat dilakukan secara setara atau apple to apple.

Menurut Amalia Adininggar Widyasanti, literasi merupakan tolok ukur pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan, sedangkan inklusi mencerminkan keterlibatan nyata atau penggunaan produk tersebut.

“Jadi kalau ditanya, orang tahu pemahaman tentang produk-produk syariah? Tahu, tapi kan belum tentu dia memiliki rekening tabungan syariah, belum tentu dia juga punya saham syariah,” kata Amalia Adininggar Widyasanti.

Tantangan utama dalam pengembangan sektor keuangan syariah saat ini adalah mendorong masyarakat agar tidak hanya memiliki pemahaman, tetapi juga menjadi nasabah aktif dalam layanan keuangan tersebut.

“Bagaimana masyarakat juga, selain paham dan tahu tentang produk syariah, tapi juga menggunakan dan menjadi nasabah,” ujar Amalia Adininggar Widyasanti.

Data BPS menunjukkan tren yang kontras pada sektor keuangan konvensional yang justru mengalami peningkatan selama periode yang sama.

Indeks literasi keuangan konvensional pada 2026 naik menjadi 69,57% dari 66,64% pada tahun 2025.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional secara keseluruhan meningkat dari 92,74% menjadi 93,61%.

Pihak BPS berkomitmen untuk terus membedah data hasil survei agar publik mendapatkan gambaran yang akurat mengenai perkembangan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.