Jakarta – Tren surplus perdagangan yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut akhirnya terputus setelah Indonesia mencatatkan defisit neraca dagang sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kondisi ini merupakan defisit pertama sejak April 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa pelemahan kinerja ini dipicu oleh nilai impor yang melampaui nilai ekspor pada periode tersebut.
Defisit neraca perdagangan migas menjadi penyumbang utama dengan angka mencapai US$ 3,76 miliar.
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mampu mencatatkan surplus sebesar US$ 2,15 miliar.
Kinerja positif di sektor nonmigas tersebut ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta besi dan baja.
Secara kumulatif, periode Januari hingga Mei 2026 sebenarnya masih membukukan surplus sebesar US$ 4,03 miliar.
Namun, capaian tersebut tercatat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut fenomena ini telah diprediksi sejak awal tahun sebagai sinyal tekanan ekonomi.
“Sebetulnya trennya sudah jelas kita prediksikan bahwa impor akan menaik karena inflasi impor, harga barang-barang di dunia naik, kemudian ditambah lagi rupiah lemah. Jadi kalau kita impor jadi jauh lebih mahal,” ujar Faisal dalam diskusi media, Kamis (2/7).
Menurut Faisal, perubahan dinamika perdagangan global akibat ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menekan kinerja ekspor dan impor nasional.
Ia menjelaskan bahwa saat ini banyak negara mulai memprioritaskan keamanan rantai pasok dibandingkan efisiensi biaya.
“Perdagangan global saat ini bukan lagi hanya mencari mitra yang paling efisien, tetapi juga yang paling aman dan paling tangguh,” jelasnya.
Faisal menambahkan bahwa persaingan geopolitik memaksa banyak negara membentuk jaringan perdagangan berdasarkan strategi kepentingan yang membuat efisiensi menurun.
Dampak dari pola ini terlihat jelas pada data BPS di mana ekspor mulai mengalami penurunan signifikan pada Mei setelah sempat bertahan pada bulan sebelumnya.
“Jadi sekarang bukan hanya impornya yang tinggi, tetapi ekspornya juga melemah. Akibatnya surplus perdagangan yang sebelumnya sudah sangat tipis akhirnya berubah menjadi defisit,” ungkap Faisal.
Berdasarkan data BPS, impor Indonesia pada Mei melonjak 22,16 persen secara bulanan menjadi US$ 24,81 miliar.
Lonjakan tersebut didorong oleh impor migas yang naik 70,8 persen menjadi US$ 4,51 miliar.
Sementara itu, total ekspor tercatat turun 5,73 persen menjadi US$ 23,2 miliar.
Ekspor migas mengalami kontraksi 31,76 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 4,5 persen.
Ke depan, Faisal menilai tekanan terhadap neraca perdagangan masih akan terus berlanjut.
Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina dinilai menjadi faktor fundamental yang akan terus menekan tatanan perdagangan global ke depan.
“Cina sama Amerika di luar konflik yang ada di Timur Tengah itu masih bisa bersaing. Jadi ke depan kita masih akan merasakan tekanan yang sama dari perdagangan,” tutupnya.







