Jakarta – Dua mantan presiden RI, Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kembali diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Kementerian Sosial (Kemensos) telah mengajukan 40 nama tokoh kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) optimistis pengumuman Pahlawan Nasional baru dapat dilakukan sebelum 10 November 2025.
“Insya Allah sebelum 10 November, dari nama-nama itu akan dipilih beberapa nama,” kata Gus Ipul usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (28/10).
Proses penetapan calon Pahlawan Nasional melibatkan seleksi berlapis, mulai dari masyarakat hingga tim ahli tingkat pusat.
Menurut Gus Ipul, usulan nama Soeharto dan Gus Dur sempat tertunda karena terkendala syarat formal.
“Karena syarat-syarat formalnya sudah terpenuhi semua, maka untuk tahun ini kita usulkan ke Dewan Gelar,” jelasnya.
Selain Soeharto dan Gus Dur, Kemensos juga mengusulkan 38 nama lain, di antaranya:
* Marsinah (Aktivis buruh perempuan, Jawa Timur)
* Syaikhona Muhammad Kholil
* KH Bisri Syansuri (Eks Rais Aam PBNU)
* KH Muhammad Yusuf Hasyim (Tebuireng, Jombang)
* Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf (Sulawesi Selatan)
* Jenderal TNI Purn. Ali Sadikin (Jakarta)
* HM Sanusi (Jawa Timur)
* H.B Jassin (Gorontalo)
* Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat)
* Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)
* H Ali Sastroamidjojo (Jawa Timur)
* dr Kariadi (Jawa Tengah)
* RM Bambang Soeprapto Dipokoesomo (Jawa Tengah)
* Basoeki Probowinoto (Jawa Tengah)
* Raden Soeprapto (Jawa Tengah)
* Mochamad Moeffreni Moe’min (Jakarta)
* KH Sholeh Iskandar (Jawa Barat)
* Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Sumatera Barat)
* Zainal Abidin Syah (Maluku Utara)
* Gerrit Agustinus Siwabessy (Maluku)
* Chatib Sulaiman (Sumatera Barat)
* Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Sulawesi Tengah)
Komisi X DPR akan membahas usulan ini dengan Kementerian Kebudayaan.
Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayanti, menyatakan pihaknya akan melakukan verifikasi terhadap 40 nama yang diusulkan.
Esti menyoroti usulan nama Soeharto, mempertanyakan nasib para reformis Orde Baru.
“Tentu ada beberapa hal yang perlu diverifikasi terlebih dahulu, bagaimana nanti nasib para reformis ketika kemudian beliau diberi gelar pahlawan nasional,” kata Esti.
Menurutnya, usulan nama Soeharto perlu dikaji lebih dalam, mengingat ada nama lain yang diusulkan karena kepahlawanannya atau menjadi korban saat Orde Baru.







