Jakarta – Media sosial kini berpotensi memecah belah masyarakat akibat fenomena “bilik gema” dan “pasca-kebenaran”. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria.
Nezar Patria khawatir, “bilik gema” menciptakan lingkungan di mana pengguna hanya terpapar informasi yang sesuai keyakinan mereka.
Algoritma media sosial menjadi penyebab utama. Platform didesain menyajikan konten yang disukai pengguna agar betah berlama-lama.
Akibatnya, pandangan berbeda tersaring dan pengguna hidup dalam gelembung informasi seragam.
Dampak negatifnya adalah mengerasnya keyakinan dan polarisasi sosial. Seseorang yang terus-menerus mendengar pendapat sama bisa menjadi ekstrem dan sulit diubah.
“Ini menciptakan masyarakat yang terpecah-pecah, di mana kelompok yang berbeda kesulitan berkomunikasi karena memiliki ‘fakta’ yang berbeda,” ujar Nezar.
Bagi individu, “bilik gema” merampas kemampuan berpikir kritis dan membuat mereka lebih mudah percaya pada hoaks.
Dalam skala luas, fenomena ini mengancam stabilitas sosial dan demokrasi, memicu ketegangan politik dan mempersulit kesepakatan dalam isu penting.
Lingkungan di mana “yang benar bisa dianggap salah, dan yang salah bisa dianggap benar” merusak kepercayaan terhadap institusi dan sesama warga.
Nezar Patria menekankan pentingnya kesadaran akan bahaya laten ini.
Menurutnya, akar masalah ada pada cara kerja platform media sosial yang berusaha mempertahankan pengguna dengan menyuguhkan konten sesuai selera.







